Laboratorium Demokrasi di Sekolah
Oleh: Hukman Reni
Suatu sore di Turiskain, desa kecil di pinggir Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, saya dibuat bingung oleh telepon genggam saya sendiri. Saya ingin menghubungi seorang teman di Jakarta. Namun yang muncul di layar bukan operator Indonesia. Yang muncul justru Timor Telekom.
Kartu SIM saya seperti sedang kehilangan kewarganegaraannya.
“Kalau mau dapat jaringan Indonesia, harus pindah sedikit,” kata teman saya sambil menunjuk bukit kecil beberapa ratus meter dari rumahnya.
Saya pun berjalan.
Naik sedikit.
Turun sedikit.
Kadang sinyal muncul satu batang. Hilang lagi.
Di tempat seperti itulah anak-anak sekolah hidup setiap hari.
Mereka bukan sedang bermain petak umpet. Mereka sedang mengejar masa depan dengan sinyal timbul tenggelam.
Saya membayangkan seorang siswa SMA di sana. Guru memberinya tugas daring. Deadline besok pagi. Ia lalu berjalan mencari titik sinyal. Kadang harus menempuh jarak yang bagi anak kota mungkin tidak masuk akal. Satu jam pulang-pergi hanya untuk membuka Google Classroom.
Namun anehnya, di tengah perjuangan seperti itu, suara mereka tetap nyaris tak pernah dianggap dalam menentukan kebijakan sekolah.
Jam belajar diputuskan dari atas.
Sistem evaluasi ditentukan dari atas.
Aturan seragam datang dari atas.
Kurikulum turun dari atas.
Siswa tinggal menjalankan.
Tidak ditanya.
Tidak diajak bicara.
Tidak dilibatkan.
Padahal merekalah yang paling merasakan seluruh kebijakan itu.
Di Jakarta, mungkin ada siswa yang belajar dengan laboratorium bahasa modern, studio seni, internet cepat, dan perpustakaan digital. Sementara di pelosok, ada siswa yang bahkan masih bernegosiasi dengan sinyal telepon.
Tetapi keduanya dipaksa menghadapi standar pendidikan yang sama.
Inilah ironi pendidikan kita. Ketimpangan fasilitas berjalan beriringan dengan keseragaman kebijakan.
Negara seperti terlalu percaya bahwa semua anak Indonesia hidup dalam realitas yang sama.
Padahal tidak.
Anak-anak di kota besar hidup dalam kecepatan.
Anak-anak di daerah 3T hidup dalam perjuangan.
Namun keduanya diperlakukan seolah berdiri di garis start yang identik.
Sekolah kita sebenarnya masih mewarisi pola lama. Birokratis, hierarkis, dan terlalu percaya bahwa orang dewasa selalu paling tahu segalanya.
Kepala sekolah membuat keputusan.
Guru menjalankan keputusan.
Siswa menerima keputusan.
Selesai.
Sekolah sering kali lebih mirip kantor pemerintahan kecil daripada ruang tumbuh manusia.
Padahal, bukankah sekolah seharusnya menjadi tempat pertama seseorang belajar menjadi warga negara?
Bukan hanya belajar matematika.
Bukan hanya menghafal sejarah.
Tetapi belajar bagaimana menyampaikan pendapat. Belajar mendengar. Belajar tidak selalu menang. Belajar berunding.
Singkatnya, belajar demokrasi.
Pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, pernah mengkritik model pendidikan yang ia sebut seperti “bank”. Guru menabung pengetahuan ke kepala murid. Murid tinggal menerima setoran. Tidak ada dialog.
Akibatnya, sekolah hanya melahirkan kepatuhan, bukan kesadaran.
Freire percaya pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan menjadikannya mesin penghafal.
Pandangan itu terasa relevan sekali dengan banyak sekolah kita hari ini.
Siswa diminta kritis di buku Pendidikan Pancasila.
Tetapi ketika benar-benar kritis di ruang sekolah, mereka dianggap melawan.
Siswa diminta demokratis.
Tetapi bahkan suara mereka tentang aturan sekolah sendiri sering dianggap gangguan.
Saya jadi teringat OSIS.
Di banyak sekolah, Organisasi Siswa Intra Sekolah hanya sibuk menjadi panitia.
Panitia lomba.
Panitia pensi.
Panitia upacara.
Panitia acara perpisahan.
Tetapi jarang benar-benar menjadi wakil suara siswa.
Mereka boleh mengatur dekorasi panggung.
Tetapi tidak boleh menyentuh kebijakan.
Mereka boleh mengurus spanduk.
Tetapi tidak boleh mengkritik aturan.
OSIS akhirnya lebih sering menjadi alat administratif daripada ruang belajar demokrasi.
Padahal justru di situlah kesempatan emas pendidikan berada.
Sebab demokrasi tidak lahir dari ceramah.
Demokrasi lahir dari pengalaman.
Orang tidak belajar berenang dari buku teori.
Ia harus masuk ke air.
Begitu pula demokrasi.
Anak-anak tidak akan belajar berdemokrasi jika seluruh hidup sekolahnya hanya diisi instruksi satu arah.
Tentu ada yang khawatir.
“Anak-anak belum matang.”
“Mereka emosional.”
“Mereka belum mengerti kompleksitas.”
Benar.
Tetapi bukankah semua orang dewasa dulu juga belajar dari kesalahan?
Kematangan tidak jatuh dari langit pada usia tertentu.
Ia dibentuk lewat pengalaman mengambil keputusan.
Lucunya, kita sering menganggap siswa terlalu muda untuk dilibatkan, tetapi pada saat yang sama kita berharap mereka tiba-tiba menjadi warga negara demokratis begitu lulus sekolah.
Bagaimana caranya?
Demokrasi bukan kemampuan instan.
Ia keterampilan sosial yang harus dilatih.
Dan sekolah adalah tempat latihan paling logis.
Negara-negara dengan pendidikan terbaik sudah lama memahami ini.
Di Finlandia, siswa ikut terlibat dalam evaluasi sekolah dan proses pembelajaran. Mereka diajak bicara, bukan sekadar diperintah.
Di Korea Selatan, pelibatan siswa dalam tata kelola sekolah terbukti membantu menurunkan konflik dan kasus perundungan.
Mengapa?
Karena manusia cenderung menjaga sesuatu yang ia rasa miliknya.
Ketika siswa merasa sekolah adalah ruang bersama, mereka akan lebih bertanggung jawab terhadapnya.
Sebaliknya, ketika sekolah terasa seperti institusi asing yang hanya memerintah, siswa akan menjaga jarak emosional darinya.
Pendidikan kita terlalu lama sibuk membentuk kepatuhan.
Padahal masa depan membutuhkan keberanian berpikir.
Sekolah tidak boleh hanya menjadi pabrik nilai.
Ia harus menjadi laboratorium demokrasi.
Tempat anak-anak belajar bahwa suara mereka berharga.
Bahwa berbeda pendapat bukan dosa.
Bahwa keputusan bersama membutuhkan dialog.
Bahwa kekuasaan harus bisa dikritik.
Dan mungkin, di desa-desa seperti Turiskain itu, anak-anak sebenarnya tidak hanya sedang mencari sinyal telepon.
Mereka juga sedang mencari sinyal bahwa negara benar-benar mau mendengar suara mereka.
.png)
Posting Komentar untuk "Laboratorium Demokrasi di Sekolah"
Bagaimana komentar anda?