Pak Arman tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran desa, sebuah rumah yang sudah lapuk dimakan waktu. Meskipun hidupnya sederhana, ada banyak orang yang datang ke rumahnya—tidak hanya untuk meminta bantuan, tetapi juga untuk berbagi cerita, menggali nasihat, atau sekadar mencari ketenangan. Ia selalu mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan kebijaksanaan yang datang dari pengalaman panjang hidup Pak Arman.
Suatu hari, di bawah langit biru yang cerah, seorang pemuda muda bernama Dwi mendatangi rumah Pak Arman. Dwi adalah seorang pekerja keras yang penuh ambisi. Ia merasa hidupnya tak pernah cukup, selalu ingin lebih, dan merasa bahwa tak ada yang cukup untuk memuaskan dahaga keinginannya. Meskipun di luar tampak bahagia, hatinya selalu gelisah. Ia merasa ada kekosongan yang tak bisa diisi oleh materi atau pengakuan.
Dwi datang untuk berbicara tentang hal yang mengusik pikirannya: "Pak Arman," ujarnya dengan penuh keraguan, "saya mendengar banyak cerita tentang kebaikan Bapak. Anda selalu membantu orang, tanpa mengharapkan apapun sebagai imbalan. Bagaimana Bapak bisa begitu... ikhlas?"
Pak Arman menatap Dwi dengan lembut. Wajahnya yang sudah berkeriput itu menyiratkan kebijaksanaan yang terkumpul selama bertahun-tahun. Ia mengisap rokoknya perlahan sebelum akhirnya berbicara.
"Anakku," kata Pak Arman, suaranya penuh kelembutan, "kebaikan tanpa pamrih itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Itu datang dari hati yang tulus, hati yang memahami bahwa hidup ini tidak hanya tentang diri kita sendiri, tetapi juga tentang orang lain."
Dwi duduk di depan Pak Arman, matanya penuh rasa ingin tahu. "Tapi, Pak," katanya, "kenapa Bapak tidak pernah meminta apa-apa? Tidak pernah berharap dihargai? Tidak pernah ingin orang mengingat apa yang sudah Bapak lakukan?"
Pak Arman tersenyum. "Kebaikan yang datang dari harapan akan imbalan, meskipun tampaknya baik, sesungguhnya itu bukan kebaikan yang sejati. Seperti bunga yang mekar, ia tidak mekar dengan tujuan untuk dipetik, ia mekar karena ia ingin menunjukkan keindahannya tanpa syarat. Begitu pula dengan kebaikan. Jika kita mengharapkan sesuatu sebagai balasan, itu akan merubah esensi kebaikan itu sendiri. Kebaikan sejati adalah yang diberikan tanpa syarat."
Dwi terdiam sejenak. Kata-kata Pak Arman menggugah hatinya. Namun, ia masih belum sepenuhnya memahami apa yang dimaksud oleh lelaki tua itu.
"Aku pernah mendengar bahwa kebaikan itu harus dibalas," lanjut Dwi, "jadi bagaimana mungkin kita bisa melakukan kebaikan tanpa mengharapkan balasan?"
Pak Arman memandang jauh ke arah desa yang terlihat dari jendela rumahnya. Ia menghela napas pelan sebelum menjawab, "Kebaikan itu bukan untuk dihitung, Dwi. Tidak ada angka yang bisa menggambarkan kedalaman hati yang memberi. Ketika kita membantu orang lain, kita tidak memberikan sesuatu yang kosong. Kita memberi bagian dari diri kita—waktu, perhatian, kasih sayang, harapan. Itulah yang lebih berharga dari segala imbalan duniawi."
Dwi mulai merenung. Ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam cara pandangnya selama ini. Meskipun ia telah membantu banyak orang, sering kali ia berharap agar orang-orang itu mengakui apa yang telah ia lakukan. Ia ingin dihargai dan diingat sebagai seseorang yang baik.
"Jadi, Bapak tidak pernah merasa kecewa atau kesepian karena tidak ada yang mengingat jasa-jasa Bapak?" tanya Dwi dengan hati yang penuh kebingungan.
Pak Arman tersenyum lagi. "Kecewa? Tidak, Dwi. Karena kebaikan itu bukan untuk dipamerkan, dan bukan untuk dihitung. Ketika kita memberi, kita tidak hanya memberi kepada orang lain, tetapi juga kepada diri kita sendiri. Kita memberi kepada dunia, dan dunia akan memberi kembali dalam bentuk yang tak terduga."
Dwi masih terdiam, mencoba mencerna kata-kata Pak Arman. Ia memandang lelaki tua itu dengan rasa kagum yang semakin mendalam. Tiba-tiba, Pak Arman berdiri dan mengajak Dwi berjalan keluar rumah.
"Ayo, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata Pak Arman.
Dwi mengikuti langkah Pak Arman menuju sebuah kebun kecil yang ada di belakang rumahnya. Di sana, ada sebuah pohon tua yang tampak sangat subur meskipun sudah berusia puluhan tahun. Dahan-dahannya penuh dengan bunga-bunga kecil yang putih, harum semerbak.
"Ini adalah pohon yang aku tanam bertahun-tahun lalu," kata Pak Arman dengan suara lembut. "Pohon ini tidak pernah meminta apa-apa dariku. Aku menanamnya dengan harapan bahwa suatu saat nanti, bunga-bunganya akan memberikan keindahan bagi siapa saja yang datang ke sini."
Dwi memandang pohon itu dengan penuh perhatian. "Pohon ini begitu indah, Pak. Tapi kenapa Bapak tidak pernah memetik bunga-bunganya untuk diri bapak sendiri?"
Pak Arman tersenyum. "Karena bunga-bunga ini bukan untukku. Mereka adalah hadiah untuk siapa saja yang datang dan ingin melihat keindahan yang ada di dunia ini. Aku memberi tanpa berharap mereka akan mengingatku. Aku memberi karena aku tahu bahwa dunia ini membutuhkan lebih banyak keindahan daripada yang kita bisa lihat."
Dwi merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya. "Tapi, Pak," katanya, "bukankah kebaikan itu membutuhkan pengorbanan? Mungkin suatu saat bapak akan merasa lelah dan tidak dihargai."
Pak Arman menatap Dwi dengan mata yang penuh kedamaian. "Lelah? Mungkin. Tetapi kebaikan itu bukan tentang kelelahan, Dwi. Kebaikan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Setiap langkah yang kita ambil dengan niat tulus, setiap perbuatan yang kita lakukan dengan hati yang bersih, akan selalu memberi dampak, meskipun kita tidak melihatnya langsung. Kita memberi, dan itu sudah cukup."
Dwi terdiam, terpesona oleh kedalaman pemikiran Pak Arman. Ia mulai merasakan sebuah kebijaksanaan yang berbeda dari yang pernah ia dengar sebelumnya. Hidupnya yang selama ini penuh dengan pencarian akan pengakuan mulai terasa kosong. Ia merasa seperti telah mengejar bayangan, berusaha menggenggam sesuatu yang tak bisa ia sentuh.
Pak Arman melanjutkan, "Tidak ada yang salah dengan mencari kebahagiaan, Dwi. Tetapi kebahagiaan yang sejati datang ketika kita mampu memberi tanpa pamrih. Ketika kita melepaskan harapan akan balasan, kita membuka ruang bagi keajaiban yang lebih besar untuk terjadi—baik itu dalam hidup kita sendiri maupun dalam hidup orang lain."
Dwi mulai memahami, meskipun belum sepenuhnya. Ia merasa, untuk pertama kalinya, hatinya sedikit lebih ringan. Ia merasa bahwa selama ini ia telah menjalani hidup dengan beban yang tak perlu—beban keinginan yang tak pernah terpuaskan.
"Jadi," kata Dwi perlahan, "Bapak percaya bahwa kebaikan itu akan kembali pada kita, meski tanpa kita tahu kapan dan bagaimana?"
Pak Arman mengangguk pelan. "Kebaikan itu seperti benih yang kita tanam. Mungkin kita tidak selalu melihat pohon yang tumbuh darinya, tetapi itu tetap tumbuh. Ketika kita memberi, kita menanam benih untuk masa depan—baik itu masa depan kita, atau masa depan orang lain."
Dwi terdiam, merenung dalam-dalam. Ada perasaan baru yang mulai tumbuh dalam dirinya, perasaan yang lebih tenang, lebih damai, dan lebih terbuka. Ia menyadari bahwa kebaikan yang ia lakukan selama ini mungkin tidak sepenuhnya tulus. Ia berharap orang lain melihat dan menghargainya. Tetapi sekarang, ia mulai memahami bahwa kebaikan itu bukan untuk dilihat atau dihargai, tetapi untuk memberi kedamaian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Setelah lama berbicara, Dwi berpamitan untuk pulang. Namun sebelum ia pergi, Pak Arman berkata, "Ingatlah, Dwi. Kebaikan itu tidak perlu diukur, tidak perlu diingat. Ketika kamu memberi dengan hati yang tulus, kamu akan menemukan kebahagiaan yang sejati—bukan dalam balasan, tetapi dalam ketulusan itu sendiri."
Dwi mengangguk, menyadari bahwa perjalanan hidupnya baru saja dimulai. Ia tidak perlu lagi berlari mengejar pujian atau balasan. Ia hanya perlu memberi, dengan tulus, seperti pohon yang tumbuh tanpa mengharap apa-apa.
Ketika Dwi berjalan meninggalkan rumah Pak Arman, langit senja di desa itu terlihat begitu indah, seakan dunia menyambut perubahan yang baru saja terjadi dalam dirinya. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang ia cari selama ini—ketulusan dalam memberi.***

Posting Komentar untuk "Catatan Harian: Di Ujung Jalan Tanpa Nama"
Bagaimana komentar anda?