Mengabdi Asal Ada Sinyal

Mengabdi Asal Ada Sinyal


Oleh: Hukman Reni

Koperasi Desa Merah Putih lahir dengan gairah besar. Negara ingin membangun ekonomi dari pinggiran. Gedung didirikan dan manajer direkrut serentak. Lalu datanglah surat keputusan penempatan. Sekitar 1.900 manajer ditempatkan lintas provinsi. Jumlah itu kira-kira sebelas persen dari total. Keluhan pun mengalir deras di media sosial. Sebagian memilih mundur sebelum sempat bertugas.

Pemerintah menyebut jumlah yang mundur sedikit. Menko Pangan bahkan menyebut satu atau dua. Menteri Koperasi mengakui ada, tanpa merinci angka. Mereka dijamin tidak akan dikenai sanksi. Namun angka kecil tidak memadamkan perdebatan. Keluhan yang ramai sudah menjadi cermin sosial. Pertanyaannya bukan lagi berapa yang mundur. Pertanyaannya adalah mengapa mereka ingin mundur.

Di layar kaca, Susi Pudjiastuti ikut bersuara. Dalam program ROSI di Kompas TV, ia menyindir generasi muda. Menurutnya mereka rapuh dan mudah menyerah. Mereka juga dinilai lemah dalam multitasking. Kritik itu terdengar keras dan masuk akal. Tetapi apakah ini murni soal karakter? Atau ada lapisan struktural yang tersembunyi? Esai ini mencoba membedahnya perlahan.

Logika yang Dibalik

Mari lakukan eksperimen pikiran sederhana. Bayangkan seleksinya berjalan terbalik arah. Anak muda dari Nusa Tenggara direkrut negara. Mereka ditugaskan memimpin gerai di Jakarta. Atau di Surabaya, atau di Semarang. Apakah mereka akan mundur beramai-ramai? Hampir pasti tidak. Mereka justru akan berangkat dengan bangga.

Ke kota, perantauan disebut batu loncatan. Ke desa, perantauan disebut pembuangan. Jaraknya bisa sama persis dalam kilometer. Yang berbeda adalah isi tempat tujuan. Kota menawarkan transportasi, jaringan, dan hiburan. Desa pedalaman menawarkan sunyi dan sinyal putus. Jadi yang ditolak bukan jarak itu sendiri. Yang ditolak adalah merosotnya kualitas hidup.

Data pemerintah justru menguatkan dugaan ini. Sebagian besar manajer ditempatkan dekat rumah. Lebih dari separuh berjarak paling jauh sepuluh kilometer. Hampir sembilan puluh persen tetap di provinsi asal. Keributan datang dari sebelas persen sisanya. Kelompok kecil inilah yang dilempar menjauh. Dan jauh di sini berarti terpencil. Jarak diterima selama menjanjikan modernitas.

Generasi Fasilitas-Sentris

Kritik soal multitasking perlu diurai hati-hati. Generasi muda sebenarnya piawai bekerja simultan. Mereka mengurus administrasi sambil membalas pesan. Mereka menyusun laporan sambil rapat daring. Dalam urusan teknis, mereka justru ahlinya. Yang lemah adalah multitasking jenis lain. Menjadi profesional sekaligus bertahan hidup seadanya.

Saya menyebutnya generasi fasilitas-sentris. Mereka tumbuh dalam ekosistem penunjang digital. Ojek daring, internet cepat, listrik stabil. Semua itu dianggap sewajar udara. Cabut satu saja, produktivitas ikut goyah. Stigma manja lahir dari jurang ekspektasi ini. Generasi tua mengukur dengan masa sulit mereka. Generasi muda mengukur dengan fasilitas yang biasa.

Maka ketangguhan mereka bersifat kondisional. Mereka sanggup lembur hingga larut malam. Asalkan kopi bisa dipesan lewat aplikasi. Mereka sanggup menghadapi target yang kejam. Asalkan sinyal tidak hilang saat susun laporan. Ketika syarat itu tercabut, idealisme ikut runtuh. Tangguh, rupanya, juga membutuhkan menara pemancar.

Tetapi alasan sinyal patut diperiksa ulang. Pinjaman online ternyata sanggup menembus pelosok. Penagihnya tidak pernah mengeluh soal jaringan. Joget di TikTok tetap ditonton warga dusun. Dispenser dari marketplace bisa tiba di kaki bukit Merbabu. Kurir menemukan alamat tanpa nama jalan. Rupanya sinyal desa cukup untuk berutang. Hanya belum cukup untuk mengabdi.

Desa, dengan kata lain, tidak sepenuhnya terputus. Pasar sudah lebih dulu tiba di sana. Aplikasi belanja lebih rajin daripada negara. Utang digital lebih gigih daripada idealisme. Semua sudah sampai ke dusun terjauh. Yang belum sampai hanyalah para pengabdi. Barangkali mereka masih menunggu gratis ongkir.

Algoritma Tidak Pernah Merantau

Namun kesalahan tidak bisa ditimpakan sepihak. Negara juga punya andil dalam kekacauan ini. Penempatan manajer ditentukan lewat metode algoritmik. Sistem memasangkan orang dengan titik koperasi. Rekrutmen tidak memakai pendekatan kewilayahan. Ia memakai skema redistribusi berdasarkan rasio kebutuhan. Di atas layar, semuanya tampak rapi. Algoritma tidak pernah merasakan jalan berlumpur.

Ada ironi yang lebih telanjang lagi. Sebagian manajer ditempatkan di titik tanpa gedung. Pemerintah berjanji mempertahankan status mereka. Mereka diminta menunggu bangunan selesai dikerjakan. Bayangkan menjadi manajer koperasi yang belum ada. Kontraknya dua tahun dengan status PKWT. Gaji dijanjikan, tetapi kepastian belum tentu. Sulit menuntut pengabdian dari fondasi yang belum dicor.

Jargon di Esai Motivasi

Meski begitu, gugatan moral tetap harus diajukan. Hampir semua pelamar menulis kalimat serupa. Peduli ekonomi desa, ingin membangun dari bawah. Bersedia ditempatkan di seluruh wikayah NKRI. Kalimat itu indah di atas formulir pendaftaran. Tetapi desa paling sunyi adalah ujian sesungguhnya. Di sanalah kepedulian itu paling dibutuhkan. Mundur karena sepi berarti mengakui sesuatu. Desa ternyata hanya latar dalam esai.

Koperasi pada hakikatnya adalah gerakan lokal. Ia lahir dari warga untuk menjawab kebutuhannya. Manajer dari luar memang rawan gegar budaya. Risiko ini seharusnya dihitung sejak awal. Tetapi setelah ditugaskan, pilihan menjadi pertaruhan. Tinggal dan belajar, atau pulang membawa alasan. Desa tidak butuh romantisme dari jauh. Desa butuh orang yang bersedia tinggal.

Akar di Tanah Kering

Polemik ini bukan sekadar drama rekrutmen. Ia memotret tiga keretakan sekaligus. Negara yang tergesa mengejar target. Generasi yang bergantung pada fasilitas kota. Dan idealisme yang rapuh di lapangan. Logika terbalik membuktikan satu hal penting. Jarak bukan musuh utama tenaga kerja muda. Musuhnya adalah keterpencilan.

Kritik Susi tidak sepenuhnya bisa ditepis. Tetapi kritik itu juga tidak cukup. Negara wajib menyiapkan gedung, sinyal, dan kepastian. Rekrutmen lokal harus menjadi pilihan pertama. Di sisi lain, generasi muda perlu bercermin. Membangun desa tidak cukup dengan ijazah. Ia membutuhkan kesediaan menanam akar. Bahkan di tanah yang paling kering.

Sumber:
1. JPNN — Manajer Kopdes yang Resign Tidak Dikenakan Sanksi (https://www.jpnn.com/news/catat-manajer-kopdes-yang-resign-soal-penempatan-kerja-tidak-dikenakan-sanksi)
2. Kompas — Kemenkop Bantah Kabar Banyak Manajer Kopdes Mundur (https://money.kompas.com/read/2026/09/29/100100826/kemenkop-bantah-kabar-banyak-manajer-kopdes-mundur)
3. Kumparan — Respons Kemenkop soal Isu Manajer Kopdes Mundur(https://kumparan.com/kumparanbisnis/respons-kemenkop-soal-isu-manajer-kopdes-mundur-28Gx04i5z57)
4. CNN Indonesia — Manajer Kopdes yang Mundur Tak Bakal Disanksi (https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260929171054-92-1409614/manajer-kopdes-merah-putih-yang-mundur-tak-bakal-disanksi)
5. JawaPos — 7 Fakta Manajer Kopdes Merah Putih (https://www.jawapos.com/ekonomi/2609300191/7-fakta-manajer-kopdes-merah-putih-dari-gaji-penempatan-hingga-status-karyawan?page=all)
6. Kompas TV — Susi Pudjiastuti di ROSI, 24/9/2026
(https://www.kompas.tv/nasional/692526/cerita-susi-pudjiastuti-sering-pinjam-buku-dwikorita-saat-sma)

Tinggalkan Komentar