Oleh: Hukman Reni
Laut itu bukan ibu pertiwi yang gemar menyusui impian. Laut adalah kurva probabilitas yang basah.
Tarkum paham betul kalkulus itu, meski ijazah SD miliknya sudah lama lenyap dimakan rayap pesisir. Selama dua belas tahun, Tarkum mengayuh perahu kayu bermesin tempel. Polanya selalu konsisten. Pukul tiga dini hari, berangkat. Menyeruput kopi saset. Membakar lintingan tembakau murah. Berdoa khusyuk dengan desibel tinggi. Melempar jaring nilon. Lalu? Menunggu keajaiban stokastik.
Hasilnya nyaris tak beda. Nihil. Kalaupun ada, cuma tiga ekor ikan kembung kurus dan sekantong kresek bekas mi instan.
Secara matematis, Tarkum sedang bunuh diri pelan-pelan. Mari kita bedah neraca sederhananya. Solar sepuluh liter butuh seratus ribu rupiah. Es balok dua puluh ribu. Ransum rokok dan kopi tiga puluh ribu. Total belanja modal harian: seratus lima puluh ribu. Hasil tangkapan ikan kembung laku dilego dua puluh lima ribu perak di Tempat Pelelangan Ikan.
Defisit seratus dua puluh lima ribu per rotasi kerja.
Itu belum menghitung depresiasi mesin tempel yang batuk-batuk, serta biaya oportunitas atas waktu tidur yang dirampas dinginnya angin laut. Nelayan lain menyebut Tarkum kurang sedekah bumi. Kepala dusun bilang jimat penangkal sial di perahunya sudah kedaluwarsa.
Laut itu bukan ibu pertiwi yang gemar menyusui impian. Laut adalah kurva probabilitas yang basah.
Tarkum paham betul kalkulus itu, meski ijazah SD miliknya sudah lama lenyap dimakan rayap pesisir. Selama dua belas tahun, Tarkum mengayuh perahu kayu bermesin tempel. Polanya selalu konsisten. Pukul tiga dini hari, berangkat. Menyeruput kopi saset. Membakar lintingan tembakau murah. Berdoa khusyuk dengan desibel tinggi. Melempar jaring nilon. Lalu? Menunggu keajaiban stokastik.
Hasilnya nyaris tak beda. Nihil. Kalaupun ada, cuma tiga ekor ikan kembung kurus dan sekantong kresek bekas mi instan.
Secara matematis, Tarkum sedang bunuh diri pelan-pelan. Mari kita bedah neraca sederhananya. Solar sepuluh liter butuh seratus ribu rupiah. Es balok dua puluh ribu. Ransum rokok dan kopi tiga puluh ribu. Total belanja modal harian: seratus lima puluh ribu. Hasil tangkapan ikan kembung laku dilego dua puluh lima ribu perak di Tempat Pelelangan Ikan.
Defisit seratus dua puluh lima ribu per rotasi kerja.
Itu belum menghitung depresiasi mesin tempel yang batuk-batuk, serta biaya oportunitas atas waktu tidur yang dirampas dinginnya angin laut. Nelayan lain menyebut Tarkum kurang sedekah bumi. Kepala dusun bilang jimat penangkal sial di perahunya sudah kedaluwarsa.
Di suatu fajar berangin kencang, Tarkum, dengan logika proletar yang mendadak jernih, sampai pada kesimpulan yang jauh lebih elegan. The law of diminishing returns. Sumber daya laut menyusut, tenaga terbuang, hasil makin mendekati nol.
"Tarkum," tegur Rohim, nelayan senior berbadan liat seperti kayu jati, suatu sore di dermaga. "Ikan itu ujian kesabaran. Nenek moyang kita pelaut. Jangan kalah sama laut!"
"Kang Rohim," jawab Tarkum santai sambil menambal celananya yang bolong. "Nenek moyang pelaut karena belum ada pabrik garmen dan koneksi internet kabel fiber optik. Kalau nenek moyang disuruh nombok seratus ribu tiap malam, mereka juga pilih jualan cilok."
Rohim mencibir. Menganggap Tarkum terkena distorsi kognitif. Mengkhianati kearifan lokal.
Tarkum tidak peduli. Dia pulang ke rumah gedeknya, menyalakan lampu minyak, lalu menatap dinding. Dia teringat teori dasar yang pernah dia dengar dari radio rusak bekas program penyuluhan Sunk cost fallacy. Jebakan biaya hangus. Kebanyakan orang gagal bukan karena mereka bodoh, melainkan karena enggan berhenti setelah menyetor terlalu banyak kerugian. Mereka pikir keringat masa lalu harus ditebus dengan kesengsaraan masa depan.
"Konyol," gumam Tarkum.
Malam itu, Tarkum mengambil keputusan radikal. Dia mematikan mesin tempel untuk selamanya. Jaring nilon dipensiunkan. Perahu kayunya dia jual ke tetangga seharga dua juta rupiah tunai. Likuidasi aset.
Besoknya, dermaga gempar. Tarkum berhenti melaut. Tarkum menyerah. Di mata komunitas pesisir yang menjunjung romantisme martir, Tarkum adalah pecundang struktural. Pria tanpa komitmen. Lelaki yang kabur dari medan tempur ombak.
Namun Tarkum tidak sedang kabur. Dia sedang melakukan diversifikasi portofolio.
Dengan modal dua juta rupiah hasil likuidasi perahu, Tarkum tidak membeli alat pancing baru. Dia mengamati rantai pasok. Nelayan di desanya punya satu kesamaan, mereka jago menangkap atau setidaknya jago mengeluh soal tidak adanya tangkapan, tetapi mereka payah dalam manajemen logistik dan perawatan rantai dingin. Ikan cepat membusuk sebelum sampai ke restoran kota.
"Tarkum," tegur Rohim, nelayan senior berbadan liat seperti kayu jati, suatu sore di dermaga. "Ikan itu ujian kesabaran. Nenek moyang kita pelaut. Jangan kalah sama laut!"
"Kang Rohim," jawab Tarkum santai sambil menambal celananya yang bolong. "Nenek moyang pelaut karena belum ada pabrik garmen dan koneksi internet kabel fiber optik. Kalau nenek moyang disuruh nombok seratus ribu tiap malam, mereka juga pilih jualan cilok."
Rohim mencibir. Menganggap Tarkum terkena distorsi kognitif. Mengkhianati kearifan lokal.
Tarkum tidak peduli. Dia pulang ke rumah gedeknya, menyalakan lampu minyak, lalu menatap dinding. Dia teringat teori dasar yang pernah dia dengar dari radio rusak bekas program penyuluhan Sunk cost fallacy. Jebakan biaya hangus. Kebanyakan orang gagal bukan karena mereka bodoh, melainkan karena enggan berhenti setelah menyetor terlalu banyak kerugian. Mereka pikir keringat masa lalu harus ditebus dengan kesengsaraan masa depan.
"Konyol," gumam Tarkum.
Malam itu, Tarkum mengambil keputusan radikal. Dia mematikan mesin tempel untuk selamanya. Jaring nilon dipensiunkan. Perahu kayunya dia jual ke tetangga seharga dua juta rupiah tunai. Likuidasi aset.
Besoknya, dermaga gempar. Tarkum berhenti melaut. Tarkum menyerah. Di mata komunitas pesisir yang menjunjung romantisme martir, Tarkum adalah pecundang struktural. Pria tanpa komitmen. Lelaki yang kabur dari medan tempur ombak.
Namun Tarkum tidak sedang kabur. Dia sedang melakukan diversifikasi portofolio.
Dengan modal dua juta rupiah hasil likuidasi perahu, Tarkum tidak membeli alat pancing baru. Dia mengamati rantai pasok. Nelayan di desanya punya satu kesamaan, mereka jago menangkap atau setidaknya jago mengeluh soal tidak adanya tangkapan, tetapi mereka payah dalam manajemen logistik dan perawatan rantai dingin. Ikan cepat membusuk sebelum sampai ke restoran kota.
Selain itu, mereka semua butuh satu benda vital yang harganya selalu dipermainkan tengkulak darat, garam krosok murni untuk pengawetan darurat dan es serut kering.
Tarkum melihat asimetri informasi yang telanjang.
Uang dua juta rupiah dia belikan sebuah gerobak bekas, terpal tebal, dan sisa modalnya dijadikan uang muka sewa gudang kecil dekat pelelangan. Dia tidak lagi pergi ke laut menantang dewa Neptunus yang pelit. Dia pergi ke petambak garam di kecamatan sebelah, membeli garam partai besar dengan harga grosir langsung dari produsen pertama. Memangkas perantara.
Logika ekonominya sederhana. Nelayan butuh garam saat tangkapan melimpah, dan nelayan tetap butuh garam saat tangkapan sedikit agar ikan sisa kemarin tidak berubah jadi bangkai berbau busuk. Laut punya volatilitas tinggi, sedangkan kebutuhan garam memiliki inelastisitas permintaan yang sempurna.
Tarkum beralih profesi. Dia menjadi kurir bahan pengawet dan perantara distribusi darat.
"Kamu turun kasta, Kum!" ejek Rohim saat melihat Tarkum mendorong gerobak penuh karung garam di bawah terik matahari siang. Kulit Tarkum tidak lagi terbakar angin asin tengah laut, melainkan debu jalan aspal. "Pelaut itu ksatria ombak. Tukang garam itu... buruh angkut!"
Tarkum melihat asimetri informasi yang telanjang.
Uang dua juta rupiah dia belikan sebuah gerobak bekas, terpal tebal, dan sisa modalnya dijadikan uang muka sewa gudang kecil dekat pelelangan. Dia tidak lagi pergi ke laut menantang dewa Neptunus yang pelit. Dia pergi ke petambak garam di kecamatan sebelah, membeli garam partai besar dengan harga grosir langsung dari produsen pertama. Memangkas perantara.
Logika ekonominya sederhana. Nelayan butuh garam saat tangkapan melimpah, dan nelayan tetap butuh garam saat tangkapan sedikit agar ikan sisa kemarin tidak berubah jadi bangkai berbau busuk. Laut punya volatilitas tinggi, sedangkan kebutuhan garam memiliki inelastisitas permintaan yang sempurna.
Tarkum beralih profesi. Dia menjadi kurir bahan pengawet dan perantara distribusi darat.
"Kamu turun kasta, Kum!" ejek Rohim saat melihat Tarkum mendorong gerobak penuh karung garam di bawah terik matahari siang. Kulit Tarkum tidak lagi terbakar angin asin tengah laut, melainkan debu jalan aspal. "Pelaut itu ksatria ombak. Tukang garam itu... buruh angkut!"
Tarkum berhenti mendorong. Dia menyeka peluh di dahinya dengan handuk kumal, lalu tersenyum simetris.
"Kang Rohim, dengar baik-baik," kata Tarkum dengan intonasi profesor dadakan. "Secara ontologis, ksatria ombak tidak bisa ditukar dengan beras di warung Bu Siti.
Status sosial nelayan adalah konstruksi naratif yang manis untuk menutupi marjin keuntungan yang tipis. Kemarin Kang Rohim dapat kakap lima kilo, kan? Dipotong solar, es, dan utang solar kemarin, sisa untung Kang Rohim cuma tiga puluh ribu.
Sementara dari sepuluh karung garam yang barusan saya setor ke juragan es, margin laba bersih saya seratus delapan puluh ribu rupiah. Tunai. Risiko tenggelam nol persen. Paparan predator laut nol persen."
Rohim terdiam. Mulutnya setengah terbuka, otaknya mencoba memproses perbandingan matematis yang menghantam egonya.
"Laut itu puitis, Kang," lanjut Tarkum sambil menepuk karung garamnya. "Tapi garam itu realistis. Perut tidak bisa kenyang hanya dengan metafora keagungan samudra."
Hari berganti minggu, minggu melompat jadi bulan. Teori adaptasi lingkungan Darwin bekerja tanpa ampun. Mereka yang bertahan bukanlah yang paling romantis pada tradisi, melainkan yang paling cepat merespons distorsi pasar.
Tarkum tidak berhenti di garam. Menggunakan surplus arus kas dari bisnis garamnya, dia membeli motor roda tiga bekas. Efisiensi logistik meningkat tiga ratus persen. Dia mulai menampung ikan teri segar dari nelayan-nelayan putus asa yang enggan diperas tengkulak kota. Tarkum menjemput bola, mengeringkannya dengan metode higienis di atas rak bambu buatan sendiri, lalu membungkusnya dalam kemasan plastik bersegel sederhana. Dia memberi label cerdas,Teri Gurih Pesisir Alami, Tanpa Pengawet Sintetis.
Nilai tambah tercipta. Dari komoditas mentah bernilai rendah menjadi produk olahan pangan bernilai tinggi. Value chain berhasil dikuasai tanpa perlu menyentuh air asin setinggi mata kaki.
Setahun kemudian, Tarkum tidak lagi mendorong gerobak. Dia duduk santai di teras rumahnya yang kini berdinding bata merah kokoh. Di depannya terparkir motor roda tiga yang kinclong. Pembukuan keuangannya rapi di buku tulis bergaris, debet, kredit, laba ditahan, dana darurat.
Di kejauhan, perahu-perahu kayu masih tertatih-tatih membelah ombak pagi. Suara mesin tempelnya terdengar parau, persis jeritan keputusasaan yang diromantisasi. Kang Rohim terlihat baru menepi di dermaga, wajahnya kusut, kantong matanya hitam legam, menentang nasib dengan hasil tangkapan yang lagi-lagi tidak cukup menutup harga solar subsidi.
Tarkum menyesap kopi hitamnya yang kini memakai gula aren asli, bukan pemanis buatan.
Dia tidak pernah membenci laut. Laut adalah guru terbaik yang pernah ada. Laut mengajarinya satu hukum alam paling hakiki, jika sebuah eksperimen terus menghasilkan kegagalan berulang dengan variabel input yang identik, maka terus mengulanginya bukanlah bentuk ketabahan, melainkan kegilaan metodologis.
Tarkum memilih waras. Dan di pesisir yang gemar memuja penderitaan itu, kewarasan Tarkum terbukti menghasilkan saldo tabungan yang sangat mengesankan.
Rohim terdiam. Mulutnya setengah terbuka, otaknya mencoba memproses perbandingan matematis yang menghantam egonya.
"Laut itu puitis, Kang," lanjut Tarkum sambil menepuk karung garamnya. "Tapi garam itu realistis. Perut tidak bisa kenyang hanya dengan metafora keagungan samudra."
Hari berganti minggu, minggu melompat jadi bulan. Teori adaptasi lingkungan Darwin bekerja tanpa ampun. Mereka yang bertahan bukanlah yang paling romantis pada tradisi, melainkan yang paling cepat merespons distorsi pasar.
Tarkum tidak berhenti di garam. Menggunakan surplus arus kas dari bisnis garamnya, dia membeli motor roda tiga bekas. Efisiensi logistik meningkat tiga ratus persen. Dia mulai menampung ikan teri segar dari nelayan-nelayan putus asa yang enggan diperas tengkulak kota. Tarkum menjemput bola, mengeringkannya dengan metode higienis di atas rak bambu buatan sendiri, lalu membungkusnya dalam kemasan plastik bersegel sederhana. Dia memberi label cerdas,Teri Gurih Pesisir Alami, Tanpa Pengawet Sintetis.
Nilai tambah tercipta. Dari komoditas mentah bernilai rendah menjadi produk olahan pangan bernilai tinggi. Value chain berhasil dikuasai tanpa perlu menyentuh air asin setinggi mata kaki.
Setahun kemudian, Tarkum tidak lagi mendorong gerobak. Dia duduk santai di teras rumahnya yang kini berdinding bata merah kokoh. Di depannya terparkir motor roda tiga yang kinclong. Pembukuan keuangannya rapi di buku tulis bergaris, debet, kredit, laba ditahan, dana darurat.
Di kejauhan, perahu-perahu kayu masih tertatih-tatih membelah ombak pagi. Suara mesin tempelnya terdengar parau, persis jeritan keputusasaan yang diromantisasi. Kang Rohim terlihat baru menepi di dermaga, wajahnya kusut, kantong matanya hitam legam, menentang nasib dengan hasil tangkapan yang lagi-lagi tidak cukup menutup harga solar subsidi.
Tarkum menyesap kopi hitamnya yang kini memakai gula aren asli, bukan pemanis buatan.
Dia tidak pernah membenci laut. Laut adalah guru terbaik yang pernah ada. Laut mengajarinya satu hukum alam paling hakiki, jika sebuah eksperimen terus menghasilkan kegagalan berulang dengan variabel input yang identik, maka terus mengulanginya bukanlah bentuk ketabahan, melainkan kegilaan metodologis.
Tarkum memilih waras. Dan di pesisir yang gemar memuja penderitaan itu, kewarasan Tarkum terbukti menghasilkan saldo tabungan yang sangat mengesankan.
.png)