Catatan Harian: Setetes Darah, Setetes Harapan


Hari itu, di sebuah desa kecil yang sunyi, angin berembus lembut menerpa dedaunan, membawa aroma tanah yang baru disiram hujan. Di depan sebuah rumah sederhana, seorang perempuan berusia tiga puluhan dengan sorot mata penuh kecemasan menatap jalanan sepi yang membentang di depannya. Namanya Laila, ibu dari seorang anak laki-laki bernama Andi yang berusia sepuluh tahun. Sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan kerja, Andi adalah satu-satunya yang membuatnya tetap tegar menjalani hari-hari berat.

Namun, sejak beberapa hari terakhir, Andi terbaring lemah di tempat tidur. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya kurus dan lemas. Penyakit yang awalnya dianggap Laila hanya demam biasa, ternyata menjadi ancaman serius setelah dokter puskesmas setempat menyatakan bahwa Andi menderita anemia aplastik. Penyakit itu menyerang sumsum tulang Andi dan membuat tubuhnya tidak lagi memproduksi sel darah merah dengan cukup. “Andi butuh transfusi darah segera, Bu Laila. Kondisinya tidak bisa menunggu lama,” kata dokter saat itu.

Laila keluar dari puskesmas dengan air mata bercucuran. Takdir seolah menimpakan cobaan berat ke hidupnya tanpa jeda. Desanya yang terpencil sering kali kekurangan akses terhadap pelayanan kesehatan, apalagi untuk mendapatkan suplai darah. Laila merasa bingung dan putus asa, tak tahu harus meminta bantuan ke mana.

Di saat kegelapan menyelimuti pikirannya, Laila mendengar kabar tentang sebuah kegiatan donor darah yang akan diadakan oleh Palang Merah Indonesia di kota terdekat, sekitar tiga jam perjalanan dari desanya. Kabar itu membawa setitik harapan bagi Laila, meskipun dia sadar tantangan besar menghadang. Perjalanan ke kota itu membutuhkan biaya, dan dia nyaris tidak punya apa-apa.

***

Malam sebelum hari donor darah, Laila duduk di samping Andi, mengusap kening anaknya yang semakin hari semakin pucat. Napas Andi terdengar berat, seolah setiap hembusan adalah perjuangan. "Bu... kenapa Andi tidak bisa main bola lagi?" tanya Andi dengan suara serak. "Andi kangen main sama teman-teman... Andi pengen sembuh."

Air mata Laila jatuh tanpa bisa ditahan. "Andi pasti sembuh, Sayang. Besok Ibu akan pergi mencari darah untuk Andi, dan Andi akan bisa main lagi seperti dulu," jawabnya dengan suara bergetar. Dalam hatinya, Laila memohon agar janji itu bisa ditepati.

Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar naik, Laila bergegas pergi ke kota. Dengan sisa uang tabungannya, dia menyewa ojek untuk membawanya melewati jalan-jalan berliku, menembus hutan dan sungai kecil yang menghalangi. Perjalanan terasa panjang dan penuh kesulitan, tapi Laila tidak peduli. Hanya ada satu hal dalam pikirannya: mendapatkan darah untuk Andi.

Sesampainya di kota, Laila langsung mencari lokasi di mana kegiatan donor darah akan diadakan. Dia mengikuti tanda-tanda dan petunjuk hingga tiba di sebuah balai kota yang sudah dipenuhi banyak orang. Di sana, sebuah tenda besar berwarna merah dan putih berdiri dengan tulisan "Palang Merah Indonesia" yang jelas terlihat. Para petugas, yang sebagian besar adalah relawan muda, dengan sigap dan senyum ramah melayani para pendonor yang datang.

Laila menghampiri salah satu petugas dan menjelaskan keadaannya. "Anak saya butuh darah segera. Dia di rumah, tidak bisa dibawa ke sini. Apa yang harus saya lakukan?"

Petugas itu, seorang perempuan muda bernama Mira, mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah mendengar cerita Laila, Mira langsung menghubungi koordinator di lapangan, mencoba mencari solusi. "Kami punya stok darah, Bu. Tapi ada prosedur yang harus diikuti. Apakah golongan darah anak ibu sudah diketahui?" tanya Mira.

Laila mengangguk. "Golongan darahnya O, sama seperti saya."

Mira tersenyum tipis. "Itu golongan darah yang paling sering didonorkan. Saya yakin kita bisa membantu. Tapi kita harus pastikan dulu darah ini bisa sampai ke anak ibu dengan aman."

Seketika, Mira dan timnya berkoordinasi untuk mengirimkan darah ke puskesmas di desa Laila. Mereka menyusun rencana transportasi dengan ambulans PMI yang kebetulan sedang bersiap untuk mengantar stok darah ke beberapa tempat di sekitar kota. Namun, di balik semua itu, ada satu masalah besar: stok darah golongan O di kegiatan itu hampir habis. Banyak pendonor yang datang hari itu tidak memiliki golongan darah yang sesuai.

***

Melihat situasi semakin genting, Mira mengumumkan di pengeras suara, “Kami membutuhkan darah golongan O untuk seorang anak yang saat ini sedang dalam kondisi kritis. Jika ada yang memiliki golongan darah O dan bersedia mendonorkan darahnya, tolong segera ke tenda pemeriksaan.”

Beberapa saat berlalu, namun tidak ada satu pun yang bergerak ke arah tenda pemeriksaan. Mira mencoba menenangkan diri, tetapi ia tahu waktu tidak berpihak. Ketika harapan mulai redup, seorang pria tua dengan tongkat kayu berjalan mendekat. Langkahnya tertatih-tatih, namun tatapannya penuh keyakinan.

"Saya golongan darah O. Jika darah saya bisa membantu, saya akan mendonorkan," kata pria itu dengan suara serak namun tegas.

Mira terkejut dan langsung menghampiri pria itu. "Pak, terima kasih banyak. Tapi sebelumnya kami harus memeriksa kondisi kesehatan Bapak. Apakah Bapak yakin bisa mendonorkan darah?"

Pria itu tersenyum kecil. "Sejak muda, saya sering mendonorkan darah saya. Mungkin tubuh saya tidak lagi sekuat dulu, tapi saya masih percaya bisa menolong. Anak itu butuh bantuan, dan saya punya darah yang bisa menyelamatkannya."

Mira mengangguk penuh rasa hormat. Setelah melakukan pemeriksaan singkat, tim medis PMI menyatakan pria tua itu layak mendonorkan darahnya. Dalam proses yang hening namun penuh rasa haru, darah pria itu ditampung dalam kantong-kantong darah, sementara Mira dan timnya segera menyiapkan pengiriman ke puskesmas di desa Laila.

***

Hari itu, Laila menunggu di puskesmas dengan jantung berdegup kencang. Setiap detik terasa seperti seabad, dan kecemasannya semakin memuncak. Dokter di puskesmas sudah bersiap melakukan transfusi begitu darah tiba.

Beberapa jam kemudian, suara sirine ambulans PMI terdengar dari kejauhan. Laila melompat dari tempat duduknya, napasnya tertahan. Ambulans itu berhenti di depan puskesmas, dan Mira, bersama beberapa petugas, keluar membawa kantong-kantong darah.

"Darah ini untuk Andi," kata Mira sambil tersenyum, menenangkan Laila yang menangis haru. Mereka segera membawa darah tersebut ke ruang perawatan, dan dalam waktu singkat, transfusi darah untuk Andi pun dimulai.

Saat melihat darah mengalir ke tubuh putranya, Laila merasakan campuran antara ketakutan dan harapan. Dia terus memegang tangan Andi, membisikkan doa-doa di dalam hatinya.

“Andi akan sembuh, Bu?” tanya Andi dengan suara lemah.

Laila menundukkan kepala, mencium kening putranya. “Iya, Sayang. Andi akan sembuh. Ada banyak orang baik yang membantu Andi hari ini.”

***

Beberapa hari setelah transfusi, kondisi Andi perlahan mulai membaik. Wajahnya yang pucat mulai kembali berwarna, dan senyum yang sudah lama hilang akhirnya muncul di bibirnya. Laila merasa dunia ini masih penuh dengan keajaiban dan kebaikan, meskipun kadang datang dari tempat yang tak terduga.

Laila kemudian mendatangi kantor PMI setempat, ingin berterima kasih langsung kepada pria tua yang telah menyelamatkan nyawa anaknya. Namun, saat ia tiba di sana, Mira menyambutnya dengan wajah sedih.

“Maaf, Bu Laila. Bapak yang mendonorkan darah itu… beliau sudah meninggal dua hari setelah mendonorkan darahnya. Kondisi fisiknya memang sudah lemah, dan meskipun kami sudah memeriksa dengan seksama, ternyata tubuhnya tidak mampu lagi menahan beban.

Laila terdiam, matanya berkaca-kaca. Pria tua itu telah memberikan darahnya, yang berharga lebih dari segalanya, untuk menyelamatkan Andi. “Dia memberikan hidupnya... untuk anak saya,” gumam Laila, suaranya bergetar oleh rasa haru dan syukur.

Mira mengangguk. “Dia pernah berkata bahwa darahnya bukan hanya miliknya. Darah itu adalah harapan bagi mereka yang membutuhkannya.”

***

 Sejak hari itu, Laila bertekad untuk menyebarkan pesan pentingnya donor darah kepada orang-orang di desanya. Dia mengajarkan bahwa setetes darah bisa berarti kehidupan bagi seseorang yang membutuhkan. Melalui kisah Andi dan pria tua yang tidak pernah dikenal namanya, Laila mengingatkan setiap orang bahwa kita semua bisa menjadi pahlawan, tak peduli usia atau kondisi. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk peduli dan berbagi.

Setiap tanggal 17 September, Laila selalu mengajak Andi untuk datang ke kegiatan donor darah yang diadakan oleh Palang Merah Indonesia. Bagi mereka, hari itu bukan hanya sekadar memperingati hari lahirnya PMI, tetapi juga hari di mana nyawa Andi diselamatkan oleh sebuah kebaikan yang tak terduga. Sebuah kebaikan yang datang dari seseorang yang memberikan segalanya, bahkan hidupnya, demi harapan orang lain.

Dan hingga hari ini, kisah mereka terus hidup. Tetes darah, tetes harapan. (Cibubur, 17 September 2024, Hukman Reni)***

Posting Komentar untuk "Catatan Harian: Setetes Darah, Setetes Harapan"