Catatan Harian: Surabaya 19 September


Pagi masih lengang, matahari Surabaya masih malu-malu memanjat cakrawala, menyirami kota dengan sinar kekuningan yang menenangkan. Tanggal menunjukkan angka 19 September 1945, beberapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Udara berbau laut, bercampur aroma garam dan asap dari kapal-kapal yang sibuk di pelabuhan. Tetapi, pagi itu, sesuatu yang jauh lebih kuat dan lebih mengguncang dari sekadar cuaca sedang dipersiapkan.

Di jantung kota, berdiri tegak bangunan megah bernama Hotel Yamato, bangunan kolonial peninggalan Belanda yang sebelumnya dikenal dengan nama Hotel Oranje.

Bagi rakyat Surabaya, hotel ini bukan sekadar penginapan; ia simbol penindasan kolonial, tempat di mana segala kemewahan dan hak istimewa diperuntukkan hanya untuk kaum penjajah.

Hotel ini berdiri gagah di tengah-tengah jalan Tunjungan yang sibuk, menghadap ratusan bangunan toko dan tempat usaha yang dikelola oleh penduduk lokal.

Namun, yang menarik perhatian semua orang hari itu adalah sebuah bendera. Di atas hotel, bendera Belanda, merah-putih-biru, berkibar angkuh. Keberadaan bendera itu, bagi rakyat Surabaya yang sedang bergelora semangatnya dalam mempertahankan kemerdekaan, adalah simbol bahwa Belanda tidak menyerah begitu saja. Mereka belum selesai.

Bendera itu tak hanya menyiratkan keangkuhan, tapi juga provokasi. Keberadaannya seolah berkata, "Kami masih di sini, dan kami akan mengambil kembali apa yang kalian klaim sebagai milik kalian."

***

Budi, seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, berjalan dengan cepat di antara kerumunan orang yang mulai berkumpul di depan hotel. Sapu tangan putih yang dililitkan di lehernya sudah basah oleh keringat, meski pagi masih dini. Wajahnya mengeras, matanya penuh amarah yang dipendam sekian lama. Bersama beberapa temannya, ia baru saja mendengar kabar bahwa di puncak hotel Yamato, bendera Belanda dinaikkan kembali oleh sekelompok Belanda yang datang bersama pasukan Sekutu. Merah putih yang mereka kibarkan beberapa hari lalu sebagai lambang kemerdekaan di puncak hotel itu telah dicopot diganti bendera warna merah putih biru.

"Ini tidak bisa dibiarkan!" geram Budi sambil mengepalkan tinjunya. Di dadanya, nasionalisme mendidih seperti lava yang siap meledak kapan saja.

Di depannya, seorang pria dengan tubuh kekar—Sutomo, yang lebih dikenal sebagai Bung Tomo—berdiri menghadap kerumunan.

Bung Tomo, dengan suara seraknya yang khas, mampu mengguncang siapa pun yang mendengarnya. Pada pagi itu, suaranya bahkan lebih menggema.

“Kita sudah merdeka, kawan-kawan! Proklamasi sudah disuarakan. Apa artinya jika mereka menginjak-injaknya begitu saja?” teriaknya dengan sorot mata yang penuh amarah dan semangat perjuangan. Ia berdiri dengan kaki yang mantap, seolah tak ada yang bisa menggoyahkan kepercayaannya.

Darah dalam tubuh Budi semakin cepat mengalir. Ia bukanlah seorang pemimpin, tetapi seorang pejuang dari pinggiran kota yang tak mau diam melihat bangsanya dipermalukan. Ia menyeka peluh di dahinya dan merangsek maju, mendekati Bung Tomo dan teman-teman seperjuangannya.

“Bung, kita harus bertindak sekarang juga. Jangan beri mereka kesempatan lebih lama lagi!” Budi berseru dengan napas terengah-engah. Bung Tomo menoleh, menatap pemuda itu dengan penuh kebanggaan.

“Tenang, Budi. Semuanya sudah siap,” jawab Bung Tomo dengan senyum tipis. “Tapi kita tak boleh gegabah. Ini bukan hanya soal bendera. Ini soal harga diri. Soal martabat Indonesia”

***

Kerumunan semakin banyak. Mereka yang tadinya ragu-ragu kini merasa tergugah, terpicu oleh semangat yang sama. Jalan Tunjungan, yang biasanya ramai oleh aktivitas perdagangan, pagi itu dipenuhi oleh ratusan rakyat yang siap mengorbankan diri demi sebuah cita-cita: mempertahankan wibawa kemerdekaan yang baru beberapa minggu dikumandangkan

Di balik riuh rendah suara massa, seorang lelaki tua melangkah pelan-pelan, bersandar pada tongkat kayu. Rambutnya yang memutih mencerminkan usia yang tak lagi muda, namun sorot matanya menyala-nyala. Pak Harto, begitu ia dipanggil, adalah saksi hidup dari penjajahan panjang yang telah menindas rakyatnya. Kali ini, ia tak ingin menjadi saksi bisu lagi. Meski tubuhnya lemah, semangatnya masih kokoh.

Bersama anak-anak muda seperti Budi, Pak Harto ikut bergerak mendekati pintu utama hotel. Ia teringat hari-hari di mana hotel ini hanya bisa dimasuki oleh kaum kulit putih. Sekarang, hotel ini menjadi pusat dari pertarungan simbolis tentang siapa yang benar-benar berkuasa di tanah air ini.

“Pak, istirahat saja. Biar kami yang maju,” kata seorang pemuda kepada Pak Harto.

Pak Harto hanya tersenyum. “Nak, ini bukan hanya pertarungan kalian. Ini pertarungan kita semua. Kita tak bisa menyerahkan masa depan hanya pada generasi muda. Kita harus bersama-sama.”

Budi mengangguk mendengar kata-kata bijak itu. Ia merasakan sebuah energi baru, sebuah keyakinan bahwa perjuangan ini lebih besar dari sekadar insiden bendera.

***

Menjelang siang, situasi memanas. Pihak Belanda di dalam hotel yang sejak pagi itu merasa yakin bahwa keberadaan mereka akan diterima, mulai panik melihat kerumunan yang semakin besar. Para pemuda yang bergelora mulai mendesak masuk, meskipun dihadang oleh pasukan keamanan hotel yang dipersenjatai. Namun semangat kaum muda itu sudahq oleh tak bisa dihentikan.

Budi dan beberapa temannya menerobos masuk ke dalam hotel, meski harus menghadapi perlawanan. Adu fisik terjadi. Beberapa orang terjatuh, terluka, tapi tak ada yang mundur. Mereka terus maju.

Di puncak hotel, bendera merah-putih-biru masih berkibar. Budi merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia melihat para pejuang lainnya mulai memanjat tiang bendera. Ada yang membawa parang, ada yang sekadar membawa tekad.

Dalam kekacauan itu, Pak Harto menyaksikan dari bawah dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mampu memanjat karena tulang tubuhnya yang sudah rapuh oleh umur. Tetapi hatinya ikut memanjat bersama para pemuda itu.

“Untuk Indonesia!” teriak seorang pemuda yang sudah sampai di puncak tiang. Dalam sekejap, warna biru dari bendera itu dicabik dengan paksa. Bendera itu menjadi merah putih, sempurna, bersih, dan berkibar di bawah langit Surabaya yang cerah.

Sorak-sorai pecah. Di antara deru napas yang tersengal, tangis haru, dan suara tawa kemenangan, satu hal menjadi jelas: ini bukan sekadar bendera yang dikibarkan kembali, melainkan harga diri yang diusik. Mereka tahu bahwa perjuangan mereka belum selesai, bahwa musuh akan datang dengan kekuatan yang lebih besar. Tetapi, untuk hari itu, mereka telah menang.

Di tengah keramaian, Budi berdiri dengan napas yang masih tersengal. Ia menatap bendera yang berkibar dan merasakan kebanggaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di belakangnya, Bung Tomo menghampiri dan menepuk pundaknya.

“Kau sudah melakukan hal besar hari ini, Budi. Tetapi ingat, ini baru permulaan,” kata Bung Tomo.

Budi mengangguk. “Saya siap, Bung. Apa pun yang terjadi, kami akan terus berjuang.”

Bung Tomo tersenyum, lalu mengangkat tangannya ke udara, memimpin rakyat yang bersorak penuh kemenangan. Di langit Surabaya, merah putih berkibar dengan gagah, menandakan bahwa perjuangan baru saja dikobarkan kembali.

***

Setelah insiden Hotel Yamato, gelombang perlawanan di Surabaya semakin memuncak. Rakyat dari segala penjuru, tua muda, laki-laki perempuan, semuanya menyatukan kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih. Mereka sadar bahwa musuh tak akan tinggal diam, bahwa darah akan kembali tumpah di republik yang masih balita saat itu. Namun, dengan kibaran bendera di puncak Hotel Yamato, semangat juang bela negara kembali bangkit.

Insiden ini menjadi pemantik api pertempuran yang lebih besar: Pertempuran Surabaya yang kelak mengukir sejarah sebagai salah satu momen terpenting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hotel Yamato menjadi simbol perlawanan, bahwa rakyat kecil bisa berdiri tegak menghadapi kekuatan besar yang mencoba menginjak-injak kedaulatan mereka.

Bagi Budi, Pak Harto, dan ribuan pejuang lainnya, pertempuran ini lebih dari sekadar perang. Ini adalah pernyataan bahwa mereka tak lagi takut, tak lagi tunduk. Mereka telah merasakan pahitnya penjajahan, dan kini, mereka siap menebus setiap inci tanah ini dengan darah mereka jika perlu. Mereka tak hanya berjuang untuk diri sendiri, tetapi untuk generasi yang akan datang. ***

Posting Komentar untuk "Catatan Harian: Surabaya 19 September"