Suara ambulan menggema di halaman markas Palang Merah Indonesia (PMI)
di sebuah kota kecil. Pagi itu terasa berbeda. Udara segar berbaur dengan rasa
tegang yang memenuhi dada para relawan. Di setiap sudut, mereka bergerak cepat,
menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk peringatan hari jadi PMI pada 17
September. Bukan hanya sekadar perayaan, namun juga hari bakti dan pengabdian.
Di tengah keramaian itu, tampak seorang pria paruh baya duduk di bangku
kayu di bawah pohon rindang. Namanya Sandi, seorang relawan senior yang telah
mengabdi selama lebih dari dua dekade. Rambutnya yang mulai memutih tak lagi
terjaga rapi, dan matanya memandang jauh, seperti menelusuri kenangan-kenangan
yang menorehkan jejak mendalam di hatinya. Banyak yang tak tahu, di balik
senyum ramahnya, Sandi menyimpan sebuah kisah yang selalu ia simpan sendiri,
hingga hari ini.
Pagi itu, seorang relawan muda bernama Mira datang menghampirinya. Mira
baru beberapa bulan bergabung di PMI, dan ia selalu kagum dengan ketenangan dan
kebijaksanaan Sandi. Di mata Mira, Sandi adalah sosok yang tegar dan penuh
dedikasi.
“Pak Sandi, kenapa Bapak duduk sendirian di sini? Hari ini kan spesial,
kita harus bersiap-siap untuk acara peringatan,” ujar Mira sambil tersenyum
hangat.
Sandi membalas senyumnya, namun tak segera menjawab. Ia hanya menatap
lurus ke depan, ke arah aula tempat mereka akan mengadakan acara nanti. “Mira,
kamu pernah merasa kehilangan?” tanya Sandi tiba-tiba, suaranya pelan namun
penuh makna.
Mira tertegun, tak menduga pertanyaan itu. “Kehilangan? Ya, mungkin
pernah, Pak. Tapi… kehilangan apa yang Bapak maksud?”
Sandi menarik napas panjang. “Bukan kehilangan benda, Mira. Kehilangan
yang lebih dalam… kehilangan seseorang yang membuat kita berpikir ulang tentang
hidup, tentang makna pengabdian, dan tentang bagaimana kita harus melanjutkan
hidup setelah itu.”
Mira terdiam, menunggu Sandi melanjutkan ceritanya.
Kenangan yang Tak Pernah Luntur
“Dua puluh tahun lalu,” Sandi mulai bercerita, “aku bukanlah siapa-siapa.
Aku bekerja di sebuah kantor kecil, menjalani hidup biasa-biasa saja. Hingga
suatu hari, terjadi bencana besar di kota ini. Banjir bandang yang
menghanyutkan segalanya. Aku ingat sekali, saat itu PMI datang, mereka adalah
harapan terakhir bagi banyak orang yang terjebak dalam bencana tersebut. Aku
melihat para relawan bekerja tanpa lelah, tanpa kenal waktu. Dan di antara
mereka, ada seorang gadis muda bernama Wina.”
Sandi tersenyum pahit saat menyebut nama itu, seolah nama tersebut
membawa sejuta kenangan yang tak mudah dilupakan.
“Wina adalah relawan yang penuh semangat. Dia baru saja lulus kuliah,
dan memilih untuk mengabdi di PMI. Saat pertama kali bertemu, aku tidak tahu
bahwa pertemuan itu akan mengubah hidupku. Bersama-sama, kami membantu korban
banjir, menyelamatkan mereka yang terjebak, dan menyediakan makanan serta
obat-obatan bagi yang membutuhkan. Wina adalah orang yang selalu tersenyum,
bahkan di tengah situasi paling sulit sekalipun. Dia percaya bahwa kebaikan
akan selalu menemukan jalannya, dan bahwa membantu sesama adalah panggilan
hidup yang paling mulia.”
Sandi berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam. Suaranya sedikit
bergetar saat melanjutkan.
“Namun, takdir berkata lain. Pada suatu malam yang kelam, ketika kami
sedang dalam misi evakuasi terakhir, terjadi longsor besar di daerah
perbukitan. Wina, yang berada di garis depan, tak sempat menyelamatkan diri.
Dalam sekejap, dia tertimbun bersama para korban lain. Malam itu adalah malam
terpanjang dalam hidupku, Mira. Aku berada di sana, mendengar teriakan-teriakan
mereka, namun tak bisa berbuat apa-apa. Wina… dia tak pernah kembali.”
Mira menahan napas, mendengar cerita Sandi. Ia tak menyangka bahwa pria
yang selalu tampak tegar itu menyimpan luka yang begitu mendalam.
“Semenjak malam itu,” lanjut Sandi, “aku berjanji pada diriku sendiri.
Aku tak akan pernah meninggalkan jalan ini. Aku akan terus membantu sesama,
selama aku masih bisa. Wina… dia mengajariku tentang arti pengabdian yang
sesungguhnya. Dan setiap 17 September, saat PMI merayakan hari jadinya, aku
selalu mengenang Wina. Aku tak pernah bisa melupakannya, tapi aku tahu, dia tak
ingin aku berhenti hanya karena kesedihan.”
Pelajaran dari Masa Lalu
Mira terdiam sejenak, mencoba mencerna cerita Sandi. Ia merasa dadanya
sesak, tak pernah menduga bahwa seseorang bisa begitu terluka namun tetap
memilih untuk berdiri tegak.
“Pak Sandi,” ujar Mira perlahan, “saya tidak tahu harus berkata apa.
Tapi saya yakin, Wina pasti sangat bangga pada Bapak. Pengabdian Bapak selama
ini… itu adalah cara Bapak menghormati Wina, bukan?”
Sandi tersenyum tipis. “Mungkin kamu benar, Mira. Tapi terkadang aku
bertanya-tanya, apakah aku sudah melakukan yang terbaik? Apakah aku sudah
cukup?”
Mira menatap Sandi dengan mata berbinar. “Bapak sudah melakukan lebih
dari cukup. Setiap kali Bapak menolong orang lain, itu adalah bukti bahwa Bapak
menjalani hidup dengan penuh makna. Dan saya yakin, Wina akan sangat senang
melihat Bapak terus berjalan, meskipun ada luka yang tak pernah sembuh.”
Sandi menunduk, matanya sedikit berkaca-kaca. “Terima kasih, Mira.
Kata-katamu menguatkanku. Aku hanya berharap, setiap kita yang berada di sini,
di bawah bendera Palang Merah, bisa terus menghidupkan semangat itu. Semangat
untuk menolong tanpa pamrih, tanpa syarat.”
Mira mengangguk dengan penuh keyakinan. “Itulah yang membuat kita ada
di sini, Pak. Menolong sesama adalah panggilan hati.”
Di Bawah Langit yang Sama
Hari semakin siang. Persiapan untuk acara peringatan hari jadi PMI
hampir selesai. Di aula, para relawan telah berkumpul, bersiap-siap untuk
memulai acara. Sandi dan Mira berjalan perlahan menuju aula, bergabung dengan
yang lain.
Ketika acara dimulai, seorang pembicara utama berdiri di depan podium,
mengisahkan kembali sejarah berdirinya Palang Merah Indonesia, bagaimana
organisasi ini telah melalui banyak masa-masa sulit, dan bagaimana para relawan
adalah tulang punggung dari setiap aksi kemanusiaan yang dilakukan.
Sandi duduk di barisan belakang, mendengarkan dengan seksama.
Pandangannya kembali menerawang, namun kali ini, ia merasa sedikit lebih
ringan. Ia teringat pada malam terakhir bersama Wina, di tengah banjir dan
kesibukan, ketika mereka duduk sejenak untuk beristirahat. Wina pernah berkata,
“Sandi, hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan hanya untuk diri sendiri.
Kalau kita bisa memberikan sedikit saja kebaikan untuk orang lain, kenapa tidak
kita lakukan?”
Kata-kata itu masih terngiang di telinga Sandi, seolah Wina masih ada
di sampingnya, mengingatkannya untuk terus melangkah.
Acara peringatan berlanjut dengan penghormatan kepada para relawan yang
telah gugur dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Sandi menundukkan kepala saat
nama Wina disebutkan, bersama dengan nama-nama lain yang tak kalah berjasa.
Di penghujung acara, para relawan berkumpul untuk melakukan sesi foto
bersama. Mira berdiri di samping Sandi, tersenyum. “Hari ini adalah hari yang
spesial, Pak. Bukan hanya untuk mengenang sejarah PMI, tapi juga untuk
mengenang mereka yang telah mengajarkan kita arti sesungguhnya dari
kemanusiaan.”
Sandi mengangguk, matanya menyapu sekeliling, melihat wajah-wajah penuh
harapan di antara para relawan muda. Ia merasa lega, karena tahu bahwa semangat
yang pernah Wina tanamkan tak akan pernah padam. Di bawah langit yang sama,
setiap relawan adalah cahaya kecil yang bersinar, menerangi kegelapan, tak
peduli seberapa berat jalan yang mereka tempuh.
Dan di dalam hatinya, Sandi tahu, Wina juga ada di sana, tersenyum
bangga. (Cibubur, 17 September 2024, Hukman Reni)***

Posting Komentar untuk "Catatan Harian: Kenangan dan Pengabdian"
Bagaimana komentar anda?