Usianya baru 16 tahun, tapi beban di pundaknya terasa lebih berat dari apa yang seharusnya dipikul oleh seorang remaja.
Hari itu adalah hari protes melawan kebijakan apartheid yang memaksa siswa kulit hitam belajar dalam bahasa Afrikaans, bahasa yang menjadi simbol penindasan bagi mereka.
Hari itu, Thandiwe duduk di meja kecil di rumahnya, mengenakan seragam sekolah lusuh yang pernah dijahit oleh ibunya. Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu rumah mereka yang sederhana.
Ibunya, Nomusa, masuk ke dalam ruangan. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Nomusa: "Kamu benar-benar akan pergi hari ini?"
Thandiwe: (mengangguk pelan) "Ini bukan hanya untukku, Mama. Ini untuk kita semua. Bahasa Afrikaans itu membuat kita semakin terperangkap dalam kebodohan. Aku harus melakukan ini."
Nomusa: "Tapi, anakku, apa kamu mengerti risiko yang kamu hadapi? Polisi, tentara... mereka tak segan-segan menggunakan kekerasan. Apa yang akan terjadi kalau sesuatu menimpamu?"
Thandiwe terdiam sejenak, menatap wajah ibunya yang mulai berkeriput karena kehidupan yang keras. Dia tahu ibunya takut kehilangan dirinya seperti banyak ibu lainnya yang telah kehilangan anak-anak mereka dalam perlawanan ini. Namun, Thandiwe juga merasa tidak punya pilihan. Masa depannya tergantung pada tindakan yang dia ambil hari ini.
Thandiwe: "Mama, aku tidak bisa diam saja sementara kita dipaksa belajar dalam bahasa penindas. Aku ingin masa depan yang lebih baik, tidak hanya untukku, tapi untuk kita semua. Jika aku tidak berdiri melawan, siapa yang akan melakukannya?"
Ibunya menghela napas panjang, lalu duduk di sebelah Thandiwe, menggenggam tangannya erat.
Nomusa: "Kamu adalah segalanya bagi Mama, Thandi. Jika kamu pergi, kamu harus berhati-hati. Jangan sampai terjebak dalam kerumunan yang marah. Aku hanya ingin kamu kembali dengan selamat."
Thandiwe tersenyum lemah, kemudian memeluk ibunya. Dalam pelukan itu, ada perasaan cinta dan takut yang begitu mendalam. Dia tahu bahwa perjalanan yang akan dia tempuh bisa jadi tak akan membawanya kembali ke rumah.
Setelah sarapan yang singkat, Thandiwe berangkat bersama teman-temannya menuju sekolah. Di jalan, dia bertemu dengan temannya, Sipho, yang juga bersemangat bergabung dalam protes.
Sipho: "Hari ini adalah hari kita, Thandi. Kita akan membuat mereka mendengarkan."
Thandiwe: "Aku hanya berharap kita bisa melakukannya tanpa ada yang terluka."
Sesampainya di lokasi protes, ratusan siswa berkumpul. Mereka memegang poster dan spanduk yang menuntut diakhirinya penggunaan bahasa Afrikaans dalam pendidikan mereka. Suara nyanyian protes mulai bergema di udara, penuh semangat dan tekad. Mereka percaya bahwa hari ini, mereka akan didengar.
Namun, kebahagiaan dan harapan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba, barisan polisi dengan senapan datang mendekat. Teriakan siswa-siswa yang tadinya penuh semangat berubah menjadi ketakutan.
Polisi: (berteriak melalui pengeras suara) "Bubar sekarang atau kami akan mengambil tindakan tegas!"
Thandiwe merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia menggenggam tangan Sipho erat, berusaha menahan ketakutannya.
Thandiwe: "Kita harus tetap di sini. Kita harus melawan dengan damai."
Namun, tak lama kemudian, terdengar suara tembakan. Jeritan siswa-siswa pecah di udara. Thandiwe melihat seorang siswa muda jatuh ke tanah, darah mengalir dari tubuhnya. Dia terperanjat, tubuhnya bergetar hebat. Dia tak pernah menyangka akan melihat kekerasan seperti ini.
Thandiwe: "Sipho, kita harus pergi! Ini terlalu berbahaya!"
Mereka mulai berlari, tapi polisi terus menembak tanpa pandang bulu. Thandiwe jatuh tersungkur ke tanah, dan saat dia mencoba bangkit, dia merasakan sakit yang tajam di kakinya. Sebuah peluru telah mengenai betisnya.
Thandiwe: "Sipho, aku tak bisa berjalan!"
Sipho, dengan cepat, kembali ke arahnya, menariknya bangun meski darah terus mengalir dari lukanya.
Sipho: "Aku tidak akan meninggalkanmu, Thandi! Kita akan keluar dari sini bersama."
Dengan sekuat tenaga, mereka berdua melarikan diri dari tempat kejadian. Suara tembakan masih terdengar di belakang mereka, namun akhirnya mereka menemukan tempat yang aman di belakang sebuah bangunan. Nafas Thandiwe terengah-engah, sementara kakinya terasa semakin lemas.
Thandiwe: "Aku pikir... aku akan mati tadi, Sipho."
Sipho: "Tapi kamu tidak. Kamu kuat, Thandi. Kita semua kuat. Dan kita akan terus berjuang sampai keadilan benar-benar datang."
Beberapa jam kemudian, mereka kembali ke rumah. Thandiwe berjalan tertatih-tatih, dengan bantuan Sipho. Saat mereka sampai, Nomusa langsung berlari menghampiri putrinya.
Nomusa: "Ya Tuhan, Thandi! Apa yang terjadi padamu?"
Thandiwe: (menangis) "Aku... Aku terkena peluru, Mama. Tapi aku selamat."
Nomusa memeluk Thandiwe erat, air mata berlinang di pipinya.
Nomusa: "Aku takut kehilanganmu, anakku. Tapi aku bangga padamu. Kamu melakukan sesuatu yang besar hari ini, sesuatu yang tak semua orang berani lakukan."
Thandiwe merasakan kehangatan dari pelukan ibunya. Meski tubuhnya terasa lemah dan sakit, hatinya dipenuhi dengan keberanian dan harapan. Perjuangan ini mungkin belum selesai, tetapi dia tahu, dengan tekad seperti ini, suatu hari, keadilan pasti akan datang untuk mereka.
Transyogi, 16 September 2024
Hukman Reni

Posting Komentar untuk "Harapan di Balik Peluru: Soweto 1976"
Bagaimana komentar anda?