Langit Buenos Aires malam itu tampak kelabu. Awan tebal menyelimuti bintang-bintang. Natalia duduk di sudut kamarnya yang sempit, memandang ke jendela kecil yang terletak di atas ranjang. Dia baru saja menerima kabar dari teman-temannya bahwa ada rapat darurat di sebuah rumah rahasia. Meskipun hatinya dipenuhi kecemasan, Natalia tahu, perjuangan mereka untuk melawan ketidakadilan tidak bisa dihentikan.
Natalia: (berbisik pada dirinya sendiri) "Ini bukan lagi tentang ongkos bus... Ini tentang hak kami untuk didengar."
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Itu adalah Carlos, sahabat dekatnya sekaligus teman seperjuangan. Wajahnya tampak gelisah.
Carlos: "Nat, kita harus berangkat sekarang. Tentara sudah mulai mencari orang-orang yang hadir di rapat sebelumnya."
Natalia menarik napas dalam, berdiri dan mengambil tas kecilnya.
Natalia: "Aku siap. Apa kau pikir mereka akan menghentikan kita malam ini?"
Carlos menatap mata Natalia, penuh dengan kesedihan yang terselubung.
Carlos: "Aku tidak tahu, tapi kita harus mencoba. Ini lebih besar dari kita, lebih besar dari sekadar ongkos bus... Ini tentang masa depan negara ini."
Mereka berdua keluar dari rumah Natalia dengan hati-hati, berjalan menyusuri lorong gelap menuju rumah pertemuan yang terletak di pinggir kota. Setiap langkah terasa berat, seolah beban dunia berada di pundak mereka.
Ketika mereka tiba, beberapa pelajar lainnya sudah menunggu di dalam ruangan. Wajah-wajah mereka dipenuhi ketakutan, tetapi juga tekad. Di sudut ruangan, Ana, seorang pelajar yang terkenal karena keberaniannya, mulai berbicara.
Ana: "Kawan-kawan, kita tidak bisa mundur sekarang. Pemerintah mungkin berpikir bahwa mereka bisa membungkam kita, tapi mereka salah. Kita adalah masa depan, dan kita tidak akan tinggal diam."
Natalia mengangguk setuju, meskipun di dalam hatinya, ada suara kecil yang meragukan. Dia merasakan kecemasan yang semakin meningkat, terutama karena laporan-laporan tentang hilangnya beberapa teman mereka dalam beberapa minggu terakhir.
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka dengan keras. Seorang pemuda, Ernesto yang tampak panik masuk.
Ernesto: "Mereka datang! Tentara sudah di jalan! Kita harus pergi sekarang!"
Kerumunan pelajar itu langsung panik. Beberapa mulai berlari ke arah pintu belakang, sementara yang lain terdiam, terpaku oleh rasa takut. Natalia merasa tubuhnya membeku, tetapi Carlos menarik tangannya.
Carlos: "Ayo, Nat! Kita harus keluar dari sini!"
Namun sebelum mereka sempat bergerak, terdengar suara tembakan di luar. Natalia bisa merasakan detak jantungnya semakin kencang. Kepanikannya berubah menjadi teror murni. Mereka terjebak.
Natalia: "Carlos, aku takut..."
Carlos menatap Natalia, lalu menggenggam tangannya dengan erat.
Carlos: "Aku juga takut, Nat. Tapi ingat... kita berjuang untuk sesuatu yang benar."
Saat itulah pintu depan didobrak, dan sekelompok tentara bersenjata lengkap masuk. Suasana berubah menjadi kekacauan. Tentara mulai menangkap para pelajar, memukul mereka, memborgol tangan mereka dengan kasar.
Natalia berusaha melawan ketika seorang tentara menarik lengannya, tetapi tubuhnya lemah karena ketakutan. Carlos mencoba membelanya, tetapi dia segera dipukul jatuh ke lantai. Natalia menjerit, tetapi suaranya tenggelam oleh keributan.
Tentara: "Diam! Kalian semua pemberontak!"
Malam itu, Natalia, Carlos, dan banyak pelajar lainnya dibawa dengan truk militer ke lokasi yang tidak diketahui. Mereka diikat, mata mereka ditutup, dan sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan yang mencekam, hanya sesekali diiringi oleh isak tangis dari beberapa pelajar yang tak kuasa menahan ketakutannya.
Sesampainya di tempat yang gelap dan dingin, mereka dilemparkan ke sebuah ruangan sempit. Natalia bisa merasakan dinginnya lantai beton di bawah tubuhnya. Dia tidak bisa melihat apa-apa, hanya mendengar suara napas Carlos di dekatnya.
Natalia: (berbisik) "Carlos... Apa yang akan terjadi pada kita?"
Carlos: "Aku tidak tahu, Nat. Tapi apapun yang terjadi, jangan pernah lupakan kenapa kita ada di sini. Kita tidak salah."
Suasana menjadi hening. Hanya suara langkah kaki tentara di luar yang terus menghantui mereka. Waktu seakan-akan berhenti. Natalia memikirkan keluarganya, sekolahnya, dan semua hal yang mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang tentara masuk dan menarik satu per satu pelajar keluar. Natalia mendengar suara jeritan, kemudian keheningan lagi.
Ketika gilirannya tiba, Natalia mencoba untuk tetap tenang. Dia merasakan tangan kasar tentara itu menariknya keluar dari ruangan dan membawanya ke sebuah tempat lain yang lebih terang. Mata Natalia beradaptasi dengan cahaya, dan dia bisa melihat beberapa tentara berdiri dengan senapan.
Seorang pria berjas masuk, tampak seperti seorang perwira tinggi. Dengan nada suara yang agak tinggi dia bilang: "Kalian pikir kalian bisa melawan kami? Kalian hanya anak-anak bodoh. Siapa yang menyuruh kalian?"
Natalia tetap diam. Dia tahu bahwa apapun yang ia katakan bisa membuat situasi semakin buruk. Tapi Carlos, yang dibawa bersamanya, tidak bisa menahan diri.
Carlos: "Kami tidak perlu disuruh siapa pun! Kami berjuang karena ini adalah hak kami!"
Perwira itu tertawa dingin lalu berucap: "Hak kalian? Hak kalian adalah mengikuti perintah dan tidak membuat kerusuhan."
Carlos menatap perwira itu dengan penuh kebencian, tetapi sebelum dia bisa berkata apa-apa lagi, suara tembakan terdengar. Natalia terkejut. Carlos jatuh ke lantai. Dunia Natalia seketika runtuh.
Natalia: "Carlos!"
Air mata mengalir di pipinya saat dia berlutut di samping sahabatnya. Tentara-tentara itu berdiri tanpa emosi, seolah-olah yang baru saja terjadi hanyalah hal yang biasa.
"Bawa dia kembali. Jangan buang waktu kita lagi," kata perwira itu.
Natalia tidak tahu bagaimana dia bisa bertahan malam itu. Dalam benaknya, hanya ada bayangan Carlos yang terbaring tak bernyawa di lantai. Kesedihannya berubah menjadi kemarahan yang mendalam. Meskipun tubuhnya lelah, tekadnya untuk melawan semakin kuat.
Malam Pensil “La Noche de los Lápices” adalah malam ketika Natalia kehilangan sahabat terbaiknya, tetapi itu juga malam ketika semangat perlawanan tumbuh dalam dirinya dan ribuan pelajar lainnya. Mereka mungkin kehilangan nyawa, tetapi mereka tidak pernah kehilangan martabat. Sejarah akan mengingat mereka, bukan sebagai pemberontak, tetapi sebagai pejuang keadilan.
Transyogi, 16 September 2024
Hukman Reni

Posting Komentar untuk "Catatan Harian: Malam Terakhir"
Bagaimana komentar anda?