Catatan Harian: Cinta di Bawah Bayang-bayang Merdeka


Menina, gadis Timor Timur dengan senyum ceria, dan Maunino, pemuda pro Indonesia, adalah dua jiwa yang terikat oleh cinta yang mendalam. Cinta keduanya tumbuh di tengah perbedaan pilihan politik keluarga, namun cinta mereka mampu melampaui sekat-sekat itu.

Dili, kota yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka, dengan senja yang memukau dan tatapan Pulau Atauro yang sendu, menjadi latar belakang kisah cinta mereka.

Pantai Tacitolu, dengan deburan ombak yang menenangkan, menjadi tempat favorit mereka. Di sana, mereka berbagi tawa, mimpi, dan janji sehidup semati.

Namun, takdir berkata lain. Jajak pendapat tahun 1999 menjadi titik balik dalam hidup mereka. Bagi Menina, kemerdekaan Timor Timur adalah kemenangan, namun bagi Maunino, itu adalah perpisahan yang pahit.

Cinta mereka yang begitu kuat pun harus kandas. Keduanya memilih untuk tetap pada pendirian masing-masing. Menina, dengan patriotisme yang tinggi, memilih untuk tetap di Timor Leste bersama keluarganya. Maunino, meski berat hati, juga harus menerima kenyataan pahit itu.

Hari-hari berganti, tahun berganti, namun cinta mereka tak pernah benar-benar padam. Pertemuan-pertemuan singkat di perbatasan Mota Ain menjadi satu-satunya cara mereka untuk saling mengobati rindu. 

Mereka juga tetap berkomunikasi melalui telepon, saling berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Hari Integrasi dan Hari Kemerdekaan Timor Leste menjadi momen bagi keduanya untuk saling memberi ucapan selamat, namun di balik ucapan itu tersimpan sejuta rasa. 

***

Suatu sore, mereka berjalan menyusuri pantai Tacitolu. Desiran ombak yang menghantam karang menjadi iringan indah bagi kisah cinta mereka. Mereka bergurau, tertawa, dan berbagi mimpi di bawah langit biru. 

Saat matahari mulai terbenam, mereka melihat sekelompok burung camar terbang rendah di atas kepala mereka. "Lihat, Maun, mereka seperti menari," kata Menina sambil tersenyum.

Maunino mengangguk. "Ya, seperti kita yang sedang menari dalam tarian cinta."

"Kau tahu, Maun," ujar Menina, matanya berkilau, " aku merasa sangat beruntung bisa mengenalmu. Hidupku terasa lebih berwarna sejak kita bersama."

Maunino menggenggam tangan Menina erat. "Aku pun begitu, Menina. Kau adalah segalanya bagiku."

***

Momen-momen indah itu kini hanya menjadi kenangan. Pengumuman hasil jajak pendapat 4 September 1999 telah mengubah segalanya. Cinta mereka yang begitu indah harus kandas karena perbedaan pilihan politik.

Bukan saja cinta Menina dan Maunino yang hancur, terbelah dua akibat jajak pendapat. Melainkan seantero Timor Timur hangus terpanggang api kecewa kelompok yang kalah. 

Beberapa bulan setelah pengumuman jajak pendapat itu, Menina dan Maunino sepakat bertemu di Mota Ain, perbatasan Indonesia-Timor-Leste.

Di bawah terik matahari Timor yang menyengat, mereka berbincang dengan hati yang pilu. Kenangan indah masa lalu terngiang di benak mereka.

"Maunino," suara Menina bergetar, "Ingat saat kita bersembunyi di balik batu besar di Tacitolu, saat suara tembakan menggema?"

Maunino mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku takut kehilanganmu saat itu, Nina. Aku tak ingin kau terluka."

"Aku juga takut, Maun. Tapi kita harus bertahan. Kita harus kuat."

Hening sejenak, hanya suara angin yang membawa desahan pilu.

"Nina," Maunino memulai, "Kau tahu, aku masih mencintaimu. Setiap hari, aku memikirkanmu."

Menina tersenyum pahit. "Aku juga, Maun. Tapi kenyataan berkata lain. Kita tak bisa bersama."

"Kenapa, Nina? Kenapa kita harus terpisah?"

"Karena sejarah, Maun. Karena pilihan. Aku memilih negaraku, kau memilih negaramu."

"Aku tahu, Nina. Tapi cinta kita tak salah."

"Aku tahu, Maun. Tapi cinta saja tak cukup."

Mereka saling menatap dalam-dalam, seakan ingin mengabadikan momen ini selamanya.

"Nina," Maunino meraih tangan Menina, "Janji padaku, kita akan tetap menjaga perasaan ini, meski jarak memisahkan kita."

Menina menggenggam tangan Maunino erat. "Aku janji, Maun. Sampai kapan pun."

"Aku tidak bisa meninggalkan ayah dan saudaraku," ujar Menina dengan mata berkaca-kaca. "Aku harus bersama mereka."

Maunino mengerti keputusan Menina. Hatinya hancur, tapi ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa cinta mereka harus kandas karena perbedaan pilihan politik dan nasib bangsa.

Air mata mengalir deras di pipi mereka. Pelukan hangat menyelimuti mereka, sejenak melupakan segala perbedaan. Namun kehangatan itu hanya sesaat. Politik pemerintahan kembali mencampuri urusan asmara mereka, karena pintu perbatasan harus segera ditutup sebelum gelap. Mereka berpisah lagi!

***

Hawa Natal terasa begitu dingin di Mota Ain. Menina dan Maunino bertemu seperti biasa. Pada momen ini mereka saling bertukar hadiah.

"Ini untukmu, Maun," kata Menina, menyerahkan sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas kado merah.

Maunino membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung perak berbentuk hati. "Ini sangat indah, Nina," ucapnya terharu.

"Terima kasih," balas Menina tersenyum tipis. "Aku membuat ini sendiri."

"Aku juga punya hadiah untukmu," kata Maunino, lalu memberikan sebuah bingkai foto. Di dalamnya terdapat foto mereka berdua saat masih muda, sedang tertawa bersama di pantai Tacitolu.

Menina menatap foto itu dengan lekat. Air matanya menetes perlahan. "Foto ini sangat berarti bagiku, Maun," ucapnya lirih.

"Aku tahu," jawab Maunino. "Aku selalu menyimpannya."

Keduanya terdiam, masing-masing larut dalam kenangan masa lalu. Tiba-tiba, Menina bertanya, "Kau masih ingat ketika ban mobilmu dikempeskan oleh sekelompok pemuda?"

Maunino mengangguk. "Tentu saja. Aku sangat takut saat itu. Aku khawatir akan terjadi sesuatu padamu."

"Aku juga takut," ucap Menina. "Tapi, aku lebih takut kehilanganmu."

Keduanya kembali terdiam, masing-masing merasakan sakit yang sama. Mereka saling menggenggam tangan, seolah ingin mencari kekuatan satu sama lain. Tanpa sadar, pintu perbatasan segera ditutup, mereka akhirnya berpisah lagi.

***

Menina menatap ke arah laut lepas dari balkon rumahnya di Dili. Ombak menerjang karang dengan ganas, bagai amarahnya yang tak kunjung reda. Ingatannya melayang pada saat ia dan Maunino berlari-lari di sepanjang pantai Tacitolu, tertawa lepas tanpa beban. Kini, pantai itu terasa begitu jauh, begitu tak terjangkau.

Ia teringat kata-kata Maunino saat mereka terakhir bertemu di Mota Ain, "Aku akan selalu mencintaimu, Menina. Meskipun nasib memisahkan kita, cintaku padamu akan tetap abadi."

Menina menyeka air matanya. Ia tahu Maunino tulus. Namun, cinta sejati tak selalu bisa mengatasi perbedaan ideologi dan kepentingan politik. Ia menghela napas panjang. Mungkin, inilah takdir yang harus ia terima.

Di malam yang sama, di seberang perbatasan, Maunino duduk termenung di beranda rumahnya. Ia menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Bintang-bintang itu bagai mata Menina yang selalu mengawasinya. Ia merindukan senyum Menina, tawa Menina, dan segala hal tentang Menina.

"Apakah kita akan bertemu lagi, Menina?" gumamnya lirih."

***

Matahari terik menyengat kulit mereka. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah kering dan laut asin. Menina dan Maunino berdiri di perbatasan Mota Ain, menatap ke seberang dengan tatapan kosong.

Menina: Maun, ingatkah kau ketika kita pertama kali ke Tacitolu? Ombak besar menerjang karang, burung camar berteriak riang. Kita berlari sekencang angin, tertawa lepas.

Maunino: (Tertawa getir) Aku ingat sekali, Nina. Saat itu kita tak peduli dengan dunia. Hanya ada kita berdua dan suara debur ombak.

Menina: (Matanya berkaca-kaca) Tapi sekarang, dunia telah mengubah segalanya. Kita harus memilih antara cinta dan negara.

Maunino: (Menarik napas dalam) Aku tahu, Nina. Aku tak pernah menyesali pilihanmu. Kau patriot sejati. Tapi hatiku...

Menina: (Memotong) Aku pun begitu, Maun. Aku juga tak pernah melupakanmu. Tapi takdir telah berkata lain.

Mereka terdiam sesaat, masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Kemudian, Menina melanjutkan.

Maun, besok adalah 17 Juli, Hari Integrasi. Aku tahu ini hari yang menyakitkan bagimu.

Maunino: (Sambil tersenyum pahit) Dan 20 Mei adalah hari yang menyakitkan bagimu. Kemerdekaan yang kau perjuangkan justru menghancurkan cinta kita.

Menina: (Menunduk) Aku tahu. Tapi kita tak bisa mengubah takdir.

Maunino: (Mengulurkan tangannya, meraih tangan Menina) Nina, aku akan selalu mencintaimu. Walaupun kita terpisah oleh batas negara, cinta kita tetap ada.

Menina menggenggam tangan Maunino erat. Air mata mengalir deras di pipinya.

Menina: Aku pun begitu, Maun. Selalu.

Mereka saling menatap dalam-dalam, seakan ingin mengabadikan momen ini selamanya. Kemudian, mereka melepaskan genggaman tangan mereka.

Maunino: (Sambil berjalan menjauh) Jaga dirimu baik-baik, Nina.

Menina: Sama-sama, Maun.

Mereka terus berjalan menjauh, semakin lama semakin jauh, hingga akhirnya menghilang di balik rimbunnya pepohonan.

***

Terik matahari Timor membakar kulit mereka, namun tak sepanas luka di hati. Menina dan Maunino Kembali beetemu di batas negara. Kedua insan itu berdiri memandang satu sama lain dengan tatapan sayu. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah kering dan laut asin, seakan ikut merasakan kepahitan pertemuan mereka.

"Maunino," lirih Menina, suaranya serak. "Ingatkah kau saat kita di pantai Tacitolu?"

Maunino mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Ingat, Menina. Saat kita berlari menghindari tembakan. Saat itu, aku merasa dunia seakan runtuh."

"Aku juga, Maunino. Aku takut kehilanganmu. Tapi, aku harus memilih negaraku."

"Aku mengerti, Menina. Aku juga harus memilih negaraku. Tapi, cinta kita tak pernah salah."

Mereka terdiam sejenak, masing-masing tenggelam dalam lautan kenangan.

"Maunino," lanjut Menina, suaranya bergetar. "Aku masih sering memimpikan kita. Kita berdansa di bawah langit Dili, tertawa bersama di pantai Tacitolu."

"Aku juga, Menina. Aku masih sering mendengar suara tawamu. Rasanya seperti baru kemarin."

"Aku rindu semua itu, Maunino."

"Aku juga, Menina. Sangat rindu."

Mereka saling berpelukan erat, air mata mengalir deras membasahi pipi mereka. Pelukan yang penuh sesal, penuh cinta, namun juga penuh kepasrahan.

"Kita mungkin takkan pernah bersama lagi, Maunino," ucap Menina lirih.

"Tapi, cinta kita akan selalu ada, Menina," jawab Maunino mantap. "Di sini, di perbatasan ini, di setiap sudut hati kita."

Mereka melepas pelukan, saling menatap dalam-dalam. Senyum pahit terukir di wajah mereka.

"Jaga dirimu baik-baik, Menina," ucap Maunino.

"Kau juga, Maun."

Mereka kembali terdiam, tak ada kata-kata lagi yang mampu menggambarkan perasaan mereka. Matahari mulai condong ke barat, meninggalkan bayangan panjang di perbatasan. Menina dan Maunino perlahan menjauh, masing-masing membawa luka di hati, namun juga membawa kenangan indah yang takkan pernah terlupakan.

***

Hari itu mentari baru saja tenggelam di peraduannya, Maunino tiba di rumah sepulang nonton lomba panjat pinang merayakan hari proklamasi kemerdekaan dakat balai desa. Maunino duduk di beranda rumahnya ditemani kopi hangat yang baru saja ia seduh. Ketika hendak membakar rokok yang terjepit di antara bibirnya, tiba-tiba telepon sellulernya berdering. Maunino meraih telepon genggamnya. Di hand phone itu tertulis Menina memanggil. Secepat kilat, Maunino merespon.

"Halo, Maun," sapa Menina lembut.

"Halo, Nina. Apa kabarmu?"

"Kuberitahu kabar baik, Maun. Ayahku baru saja menerima lamaran pemuda dari desa sebelah."

"Apa…? Kenapa cepat sekali?"

"Aku sudah dewasa, Maun. Aku harus memulai hidup baru. Tidak mingkin menjadi beban orang tua selamanya"

"Tapi, Nina, aku..."

"Aku tahu, Maun. Tapi kita tak bisa terus begini. Kita tidak bisa membangun cinta selamanya di pintu perbatasan"

"Nina, kumohon, jangan lupakan aku."

"Aku tak akan pernah melupakanmu, Maun. Kau akan selalu ada di hatiku karena kau lelaki pertama yang melekat di dasar jantungku"

"Nina...”

Sambungan telepon terputus. Menina menjatuhkan telepon genggamnya. Air mata kembali mengalir deras. Ia tahu, ini adalah akhir dari segalanya. Keindahan yang pernah dibangun bersama Maunino setop di sini. ***

Kupang, 2 September 2002
Hukman Reni

Posting Komentar untuk "Catatan Harian: Cinta di Bawah Bayang-bayang Merdeka"