Roti

Sejarah roti bermula ketika manusia mulai mengkonsumsi gandum. Pada awalnya, mereka mengonsumsi gandum secara langsung. Namun, beberapa waktu kemudian ditemukan cara yang lebih baik, yaitu dilumat dengan air menjadi pasta, serta dipanaskan di atas api kemudian dikeringkan.

Teknik membuat roti seperti itu masih dikembangkan hingga saat ini di berbagai negara, walaupun dengan teknologi yang beragam. Di antaranya, roti Tortilla di Meksiko, roti Canai di India, roti Pita di Timur Tengah, dll. Pada umumnya, roti-roti jenis itu dikenal dengan istilah flat bread atau roti datar

Sejarah mencatat bahwa roti berkembang dari daerah Mesopotania dan Mesir. Penemuan roti di Mesir itu sendiri cukup unik. Konon, orang Mesir dulu menemukannya saat salah satu orang tidak mengeringkan adonan yakni sekitar 4600 tahun yang lalu. Hal tersebut membuat adonan terfermentasi dan setelah dibakar memliki tekstur yang empuk dan rasa yang enak. Sejak saat itulah ragi ditambahkan untuk membuat adonan mengembang, baru setelah itu dibakar.

Perkembangan teknologi pembuatan roti di Mesir kemudian menyebar ke Yunani, hingga akhirnya masuk ke dataran Eropa. Pada saat itu, perkembangan roti mencapai puncaknya di mana roti dan gandum memiliki arti status sosial tertentu.

Roti mewakili strata sosial masyarakat pada saat itu. Semakin gelap warna roti yang dikonsumsi, semakin rendah status sosialnya. Hal ini disebabkan tepung yang berwarna putih sebagai bahan utama pembuatan roti mempunyai harga yang sangat mahal, sehingga hanya masyarakat dengan status sosial tertentu yang mampu membelinya. Apakah itu berarti, sejak mula roti memang sudah "rasialis", berkasta berdasarkan bahan bakunya?

Di Indonesia, roti adalah santapan orang bule, terutama Belanda. Tak heran jika sekarang kita menemukan Holland Bakery, meskipun dia bukan toko roti pertama di nusantara. Karena toko roti tertua di negeri ini, konon ada di Purwokerto. Toko roti ini dibangun oleh pasangan suami-istri Go Kwe Ka dan Oei Oak Ke Nio, sejak tahun 1898.

Kemudian ada toko roti Oen di Jln. Pemuda, Semarang, yang dibangun tahun 1930 dan toko roti Orion yang berdiri sejak tahun 1932, di dekat Pasar Gede Solo. Ada lagi toko roti Tan Ek Tjoan di Jakarta mulai diproduksi sejak 1953 dan toko roti Sidodadi, di Jln. Oetista, Bandung, yang  berjualan sejak tahun 1954, dan toko roti Permai di Bogor yang dibangun tahun 1963.

Sejalan dengan perkembangan peradaban dan teknologi, kini roti mejadi makanan masyarakat luas dengan berbagai varian bentuk, aroma dan rasa. Malah dalam beberapa hari terakhir, muncul roti "berbau" rasis, lalu mengundang protes dari banyak kalangan.

Adalah toko roti Tous les Jours, tempat aroma tak sedap itu muncul pertama kali. Dampaknya demikian luas, melebihi seruan boikot Sari Roti, oleh kelompok aksi 212 beberapa waktu silam.

Sesuai dengan namanya "sepanjang hari", tous les jours akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan akibat himbauan berbau intoleran, yang kemudian diposting lewat sosial media oleh pelanggannya.

Dalam peraturan itu dituliskan, Referensi: Sistem Jaminan Halal-Produk- Profil produk tidak boleh memjual sesuatu yang tidak sesuai syariat Islam. Store tidak boleh menulis di atas cake ucapan atau sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam seperti: 1. Ucapan Selamat hari besar agama, misal: Natal, Imlek dll; 2. Perayaan yang tidak sesuai syariat Islam, misal: valentine, haloween, dll....dst.

Postingan yang bikin heboh itu memang sudah dibantah oleh pengelola toko roti Tous les Jours. Bahwa peraturan yang viral di sosial media itu bukan merupakan peraturan resmi yang dikeluarkan oleh manajemen Tous les Jours.

Para pembaca pun dapat melihat, bahwa di bagian atas peraturan itu dicantumkan "referensi". Artinya pihak manajemen memiliki referensi dari pihak lain.

Bahkan secara jelas dalam peraturan itu dituliskan bahwa "store" tidak boleh...dst. Itu artinya, ada pihak ketiga yang melarang "si store" untuk tidak boleh menuliskan ucapan selamat Natal, Imlek dll, di atas kue yang dijualnya.

Tetapi apa mau dikata. "Peraturan" order kue yang ditempel di toko roti Tous les Jours terlanjur memasyarakat lewat perangkat digital dan publik pun menerimanya dengan beragam pemahaman. Akibatnya, "si store" harus menanggung resiko diserang tuduhan intoleran.

Kasus Tous les Jours bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kasus itu bisa menjadi peringatan dini bahwa, intoleransi sudah mewabah sampai ke toko roti. 

Penyebaran "virus" intoleransi itu sendiri semakin kencang berhembus oleh hadirnya "mahluk" digital. "Mahluk" digital inilah yang acapkali menjadi sarana penyebar ujaran kebencian, "kabar burung" (hoax), fitnah dan berita negatif lainnya.

Cilakanya, publik begitu gampang menelan bulat-bulat informasi, yang buruh sekalipun. Ibarat makan tempe. Sudah tahu tempe itu diremas pakai telapak kaki, tetapi dilahap sampai keringatan pakai sambel.

Tetapi viralnya sejumlah emak-emak dari berbagai keimanan memprotes Tous les Jours, menunjukkan mulai ada kesadaran menolak intoleransi. Mulai tumbuh semangat wahda (persatuan) menolak intoleransi di kalangan masyarakat. Walau kesadaran itu muncul bukan dari opa-opa.

Lantas, apa dosa agama sehingga terjerumus ke dalam roti dan apa pula salah roti sehingga terjebak dalam masalah intoleran?

Posting Komentar untuk "Roti"