CATATAN HARIAN - Namanya Riyanto. Nama yang singkat, sehingga mudah diingat. Tetapi apakah kamu mengenalnya? Mungkin iya. Mungkin juga tidak.
Riyanto lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 19 Oktober 1975. Dia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya Sukarmin, emaknya bernama Katinem.
Dari nama keluarganya, kita bisa menduga, Riyanto lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bukan dari keluarga bangsawan atau pembesar. Tetapi siapa sangka jika anak dari pasangan Sukarmin dan Katinem itu pernah melakukan hal yang luar biasa dan bermakna besar. Hal itu Riyanto lakukan di Mojokerto 19 tahun silam. Tepatnya 24 Desember 2000.
Ketika itu, bom natal marak, mengancam nusantara. Sebagai wujud toleransi, Barisan Ansor Serbaguna -- Banser NU, menyerukan kepada seluruh anggotanya untuk membantu aparat keamanan, mengamankan gereja.
Sebagai anggota yang loyal, Riyanto memenuhi seruan organisasinya. Pada malam natal, 24 Desember 2000, dia bersama beberapa orang temannya dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU), menjaga Gereja Jemaat Pantekosta Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer, Jalan Kartini Nomor 4, Kota Mojokerto, Jawa Timur.
Pada awalnya, situasi berjalan normal saja. Namun, berubah pada pukul 20.30 WIB, ketika seorang jemaat menemukan dua barang mencurigakan di dua lokasi berbeda dalam lingkungan gereja.
Saksi mata, Rudi Sanusi Wijaya, pendeta Gereja Eben Haezer menuturkan, ada bungkusan tas plastik di bawah telepon umum depan gereja. Satu lagi ditemukan di bawah bangku gereja.
Pengurus gereja khawatir sekaligus panik. Mereka curiga dua bungkusan itu berisi bom. Pengurus gereja lantas memberitahukan temuan itu kepada anggota Banser NU yang melakukan penjagaan.
Riyanto kemudian membuka bungkusan dalam tas hitam yang tampak terdapat kabel menjulur. Dia panik ketika membuka tas itu, karena terdapat percikan api.
"Tiaraapp!", teriak Riyanto memerintahkan massa untuk berlindung sambil melemparkan jauh-jauh tas hitam tersebut, agar tidak meledak dalam lingkungan gereja. Tetapi lemparan Riyanto tidak tepat. Tas itu terpental.
Tetapi niat Riyanto melindungi umat yang berada dalam lingkungan gereja, tak hilang begitu saja. Dia kembali mengambil tas itu. Lalu berlari sekencang-kencangnya sambil menggendong tas berisi bom tersebut. Tas berisi bom itu meledak dalam pelukan Riyanto. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu, berteriak histeris.
Riyanto tewas. Tubuhnya terkoyak bom rakitan. Tangan Riyanto terputus. Wajahnya hancur tak dapat dikenali. Tiga jam kemudian, sisa potongan tubuh Riyanto ditemukan di sebelah utara gereja. Kira-kira seratus meter dari pusat ledakan.
Riyanto telah menyerahkan jiwa raganya untuk kemanusiaan yang bernama toleransi. Di saat orang ramai bicara bisa atau tidaknya umat muslim memberi selamat natal, Riyanto -- melalui Banser NU, malah mengambil tindakan menjaga gereja. Haramkah tindakan mereka?
Bagi kita, toleransi mungkin baru sebatas himbauan, seminar atau obrolan. Tetapi bagi Riyanto, toleransi adalah perbuatan nyata lalu Riyanto mempersembahkan tubuh dan darahnya untuk toleransi. Riyanto adalah sebuah pilar sejarah persatuan dan kerukunan Indonesia yang berbhineka tunggal ika.
"Riyanto adalah contoh nyata kepedulian menjaga keamanan dalam kebhinekaan," tutur Romo Alexus saat memimpin doa dalam acara penganugerahan gelar "Pejuang Kemanusiaan" bagi Riyanto dari Gerakan Peduli Pejuang Republik Indonesia (GPPRI) tahun 2016.
Menurut Pastor Katolik di Mojokerto itu, pengorbanan Riyanto tak bisa dinilai dengan apa pun. "Riyanto memang telah tiada, tapi kisahnya patut diketahui semua orang dan patut dijadikan contoh. Riyanto mati untuk memberi hidup, khususnya kepada umat Kristen. Itu seperti Yesus yang berkorban dan mati untuk umatnya," tutur Romo Alexus.
"Jemaat gereja kami, dan juga umat Kristen di Mojokerto selalu mendoakan Riyanto dalam setiap perayaan Natal. Kami juga selalui memperingati haulnya," tutur Pendeta Rudi, saksi mata pengorbanan Riyanto pada 24 Desember 2000 silam.
Tak hanya itu, pihak gereja Eben Haezer Mojokerto juga membiayai sekolah salah satu adik Riyanto, yakni Supartini. Sang adik diberikan beasiswa sejak SMA hingga menyelesaikan kuliahnya di Universitas Islam Majapahit (UIM) Mojokerto, tahun 2011. Kini Supartini sudah bekerja.
Selain dari pihak gereja, Pemkot Mojokerto juga menghargai kepahlawanan Riyanto. Nama Riyanto dijadikan nama jalan di wilayah Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon, Mojokerto, Jawa Timur.
Sembilan belas tahun sudah berlalu (2000 - 2019), semoga semangat pertolongan Riyanto terhadap umat nasrani akan selalu dikenang setiap kita bicara toleransi.
"Riyanto adalah sosok pemuda umat beragama yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Semoga Allah SWT menerima amal perjuangan almarhum", ucap Abdurrahman Wahid, mantan presiden kita yang akrab disapa Gus Dur.
Selamat jalan Riyanto, selamat merayakan Natal bagi umat Nasrani. Setiap malam natal, ketika lagu natal berkumandang, mungkin Riyanto akan menyaksikannya dari alam yang berbeda.
Posting Komentar untuk "Riyanto"
Bagaimana komentar anda?