Untuk
itu, redaksi sengaja menurunkan wawancara dengan mantan Gubernur Timor Timur dan mantan Dubes RI
untuk Rumania, Ir Mário Viegas Carrascalao, di kediamannya, Ciputat,
Jakarta. Wawancara berkisar soal kekuatiran akan muncul perang saudara dan
ketidakmapuan Timor Timur secara ekonomis.
Berikut
adalah yang dilakukan reporter Talitakum, Hugo Fernandes dan Nuno Rodrigues.
Pertanyaan
(P): Melalui Menlu Ali Alatas, pemerintah Indonesia telah membuat keputusan untuk melepas
Timor Timur, bila otonomi luas yang diusulkannya ditolak rakyat Timor
Timur. Reaksi Anda setelahmengetahui keputusan itu?
Mario
Viegas Carrascalao (MVC): Semula memang saya terkejut, karena itu semua di luar segala pembahasan di tingkat pemerintahan. Sebab
seperti kita tahu,
pemerintah Indonesia itu ingin
memperlunak sikap atas reaksi orang, tapi dengan satu garis pemikiran
bahwa Timor Timur tidak akan dilepaskan.
Tapi
setelah mendengar pernyataannya Ibu Dewi Fortuna beberapa hari kemudian, ternyata dalam
persoalan Timor Timur, lebih baik
Indonesia membuka
diri. Dan hal ini, telah dipikirkan secara matang, dengan maksud melepaskan Indonesia dari
apa yang disebut "embel-embel" sebelum tahun 2000.
Salah
satu embel-embel yang merepotkan Indonesia adalah masalah
Timor Timur. Karena pihak Indonesia mengganggap bahwa apa
saja yang dilakukan semuanya
serba salah. Di luar negeri selalu ada macam-macam tuduhan terhadap Indonesia. Jadi,
walaupun itu (melepas Timor Timur-red.)
merupakan option
terakhir, itu hanya taktik dalam bahasa saja. Dan saya sudah tahu, walaupun Indonesia
mengatakan bahwa option ini diberikan apabila status otonomi ditolak.
(P):
Ada maksud politik tertentu di balik pemberian otonomi luas tersebut?
(MVC):
Status otonomi luas sendiri dimaksudkan
untuk mengambil hati orang Timor
Timur, baik itu 5, 10 atau 15 tahun. Tapi untuk mengetahui bahwa otonomi luas itu ditolak
atau diterima, sebenarnya Indonesia sudah siap. Apalagi, seperti kita ketahui selama ini, baik
Portugal, Amnesti Internasional,
Brasil dan Amerika Serikat menyesalkan adanya sebagian besar rakyat Timor Timur tidak ingin integrasi. Jadi, sebenarnya
Indonesia itu sudah siap. Tinggal kita orang Timor Timur yang harus
menerima ini dengan baik, tanpa memikirkan kepentingan
sendiri.Bagi yang sekarang mempunyai kedudukan dan pendapatan yang lebih
baik, lupakan dulu itu semua, kita terima apa adanya, dan mari kita
bangun lagi Timor Timur, walau pun dari nol, saya rasa tidak apa apa. Yang penting kita
bisa bersatu.
(P):
Banyak kalangan mengkuatirkan adanya perang saudara bila penyelesaian menempuh opsi ke dua.
Menurut Anda?
(MVC):
Menurut saya, perang saudara bisa
terjadi kalau Indonesia menginginkan
itu untuk terjadi. Dulu perang terjadi
karena Portugis meninggalkan
senjata. Tapi senjata-senjata itu sekarang tidak ada lagi. Persenjataan yang dipakai
sekarang di hutan adalah senjatanya Indonesia yang sekarang ini juga sedang
dibagi-bagikan kepada warga sipil di Timor Timur.
Kalau
semua senjata itu ditarik dari warga sipil, saya rasa yang di hutan pun tidak perlu lagi
membawa senjata. Karena apa yang mereka perjuangkan di hutan itu sudah akan
diperoleh. Maka untuk apa senjatanya dipakai lagi?
Dengan
demikian, suasana damai akan tercipta, sehingga kekhawatiran akan terjadi perang itu tak
mungkin. Paling-paling orang perang batu. Tapi tentunya tidak akan
berlangsung lama.
(P):
Jadi ini bukan merupakan hadiah pemerintah Indonesia?
(MVC):
Bukan. Ini demi kepentingan yang lebih
besar bagi bangsa Indonesia sendiri. Kalau kita lihat dari segi Timor Timur, tentu sekarang
kita rugi. Tapi memang itulah keadaannya.
Walau pun Indonesia mengatakan bahwa mereka tidak akan seperti
Portugal yang meninggalkan Timor Timur begitu saja. Tapi Indonesia akan
mempersiapkan keadaan yang baik dan akan melibatkan Portugal dalam penyelesaian
masalah Timor Timur dalam perundingan antar menlu kedua negara, Indonesia dan
Portugal pada 18 Februari ini.
(P):
Pembicaraaan antara Indonesia dan
Portugal di bawah PBB saat ini tak membahas proses yang
sedang berlangsung di Indonesia, tapi tentang status otonomi. Bagaimana Anda
melihatnya?
(MVC):
Justru itu lah. Yang menawarkan otonomi itu kan Indonesia, yang merupakan solusi final.
Mau terima atau tidak? Tapi Indonesia
pasti tahu bahwa
kebanyakan rakyat Timor Timur menolak hal itu, maka Indonesia membuka alternatif lain, yaitu merdeka sendiri yang juga
merupakan tawaran Indonesia
bukan tawaran kita.
(P):
Apa tak seharusnya diselesiakan di PBB
sesuai hukum Internasional?
(MVC):
Sebenarnya sejak 1982, Indonesia sudah mengakui tidak mampu lagi menyelesaikan sendiri
masalah Timor Timur. Walau masih sering menyatatakan bahwa masalahTimor Timur
adalah masalah dalam negeri Indonesia sehingga tidak mau berbicara
dengan Portugal, kecuali di forum PBB. Tapi akhirnya Indonesa mau melakukan
negosiasi. Kalau sudah siap melakukan negosiasi terhadap apa yang
dikatakan sebagai bagian negaranya ini berarti siap untuk terima kekalahan.
Sehingga mereka ingin mengembalikan ke Portugal yang proses dekolonisasinya
belum selesai. Memang sebelum 1982, Indonesia sangat konsisten bahwa Timor
Timur adalah bagian dari Indonesia, walaupun Portugal masih diakui PBB sebagai
Administering Power atas Timor Timur
secara de jury
atau teoritisnya. Tapi mulai 1982, Indonesia sudah mengakui Portugal sebagai penguasa
administratif atas Timor Timur, sehingga mau bernegosiasi dengan Portugal di bawah
naungan PBB. Hal ini berbeda dengan kasus lain. Misalnya, kalau ada
persoalan di Aceh, Indonesia tentu tidak akan bicara dengan Belanda. Tapi akan
berbicara dengan rakyat Aceh.
(P):
Persoalan ini adalah menyangkut nasib orang Timor Timur. Mengapa orang Timor Timur tak
dilibatkan dalam berbagai negosiasi untuk mencari solusi?
(MVC):
Justru itu. Karena Timor Timur waktu itu masih dalam proses dekolonisasi, walaupun
Indonesia tidak mengemukakan. Tapi
Indonesia sudah menerima
bahwa masalah Timor Timur itu masalah dekolonisasi sehingga diserahkan ke PBB.
Portugal sendiri tidak akan menerima penyelesaian apapun bila tidak melalui Sidang
Dewan PBB. Hingga saya kira tidak menjadi masalah itu.
(P):
Selama ini Indonesia begitu konsisten dengan argumen bahwa Timor Timur adalah bagian integral
dari Indonesia. Sekarang telah berubah sikap. Menurut Anda apa yang
melatarbelakangi perubahan sikap tersebut?
(MVC):
Saya kira begini. Kalau kita amati, bahwa pemerintahan yang lalu itu sangat otoriter, yang
hanya ingin memaksakan kehendaknya. Setelah adanya perubahan, rezim ini
masuk dalam era pembangunan dan era reformasi, sehingga Indonesia ingin menjadi suatu negara yang demokratis.
Tapi dalam masalah Timor Timur, hal ini
bertentangan dengan konsepnya. Sehingga perlakuan rezim lama terhadap Timor Timur
itu ingin diubah oleh pemerintahan sekarang. Sebab masalah Timor Timur itu telah
membawa citra yang sangat jelek
bagi Indonesia.
Misalkan kalau di forum dunia, kita mulai berbicara tentang Indonesia orang senang
dengan rakyatnya dan kebudayannya. Tapi kalau pembicaraan beralih ke
hal-hal serius dan prinsipil maka, dunia luar langsung menyinggung tentang Timor Timur. Selain itu,
menurut spekulasi saya, Indonesia itu masuk dalam suatu krisis
ekonomi yang berakibat pada krisis
politik. Hal ini merusak pertumbuhan
ekonomi suatu negara yang rata-rata
7% per
tahun menjadi di bawah nol. Maka sebagai suatu pemerintah yang bertanggung jawab
terhadap 200 juta penduduknya, tidak bisa membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
Tapi harus berusaha agar bisa mendapat pinjaman dari luar negeri. Sebab kalau
kita lihat, negara lain akan memberikan pinjaman Tapi dengan
syarat, yaitu melihat pelaksanaan Hak Asasi Manusia di negara ini. Jadi daripada
memberikan pinjaman untuk melanggar HAM di tempat lain seperti di Timor Timur, lebih baik
tidak perlu. Tentu hal ini akan menghambat pembangunan Indonesia.
Oleh karena itu, maka pimpinan Negara ini, memikirkan jalan
keluarnya, yaitu dengan mengorbankan Timor Timur, yang selama ini menjadi
rintangan dalam krisis ini.
(P):
Apa kah ini bukan semacam manuver
politik Indonesia untuk meraih simpati
internasional?
(MVC):
Menurut saya, logikanya seperti sudah saya katakan. Memang ada reaksi kita yang mungkin
mengganggap pernyataan itu semacam manipulasi dan kemungkinan-kemungkinan
lain. Tapi seperti saya katakan pada beberapa orang, kalau sebuah negara sebesar
Indonesia, kalau sampai melakukan manuver-manuver politik seperti ini,
maka sama sekali tidak bijaksana dan bisa membawa akibat yang sangat
buruk bagi negaranya. Sehingga bisa disebut Indonesia tidak
bertanggung jawab. Ternyata tidak demikian. Karena Indonesia sendiri sudah
berpikir lama tentang masalah Timor
Timur, terlepas dari
masalah dalam
negerinya sendiri.
(P):
Konon perubahan sikap Pemerintah Indonesia ini disebabkan oleh surat Perdana Menteri
Australia, John Howard. Menurut Anda, ada faktor lain disamping surat tersebut?
(MVC):
Sebelum suratnya (Perdana Menteri Australia-red.) memang sudah ada pembicaraan tentang
alternatif bagi masalah Timor Timur. Memang surat itu juga merupakan salah satu
faktor yang menentukan perubahan sikap Indonesia. Kita juga tahu bahwa dari
Amnesty Internasional, Kongres Amerika Serikat dan Uni Eropa melakukan tekanan-tekanan terhadap Indonesia.
Kita juga tahu seperti
di Jepang, rakyatnya menekan pemerintahnya yang banyak mendukung Indonesia. Hal ini
menyebabkan paling tidak Indonesia harus
mengambil langkah-langkah
yang sesuai dengan kehendak sahabat-sahabatnya itu. Australia yang merupakan
tetangga terdekat, bersama Amerika
Serikat menyetujui
secara de jure dan de facto integrasi Timor Timur ke Indonesia. Sekarang, sikap-sikap
yang dtunjukkan Amerika Serikat, baik dari Kongres maupun Senat, menunjukkan
adanya perubahan sikap. Australia secara terbuka mengeluarkan pernyataan
sikapnya dengan memberikan syarat agar setelah 5 atau 10 tahun, diadakan
referendum. Hal ini bertentangan dengan sikap dan kepentingan Indonesia yang mengatakan Otonomi merupakan
solusi final.
(P):
Otonomi transisi yang di usulkan Portugal dan CNRT ditolak Indonesia, Bagaimana Anda melihat
hal ini?
(MVC):
Saya juga agak binggung. Diberi
kesempatan untuk merebut hati orang Timor kok tidak mau, ini
kan aneh. Ternyata, Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa bisa juga
pemerintah Indonesia bermaksud baik untuk merebut hati orang Timor Timur, Tapi ada kelompok setempat atau kelompok diluar
Timor Timur, yang bisanya terus
mengacaukan keadaan di Timor Timur selama masa transisi. Sehingga, mungkin saja
setelah 5 tahun, masalahnya tidak selesai, tertunda terus, dan kekacauan di
Timor Timur terus berlangsung. Itu alasan atau paling tidak argumentasi
Indonesia. Sehingga usulan otonomi transisi ditolak. Saya juga agak
kecewa. Oleh sebab itu saat diundang untuk berdialog dengan Ibu Dewi fortuna,
di RCTI, yang sebenarnya di hadiri juga
oleh Menlu Ali
Alatas saya ingin tahu lebih banyak, alasan Indonesia. Tapi Pak Alatas tidak hadir. (BERSAMBUNG)

Posting Komentar untuk "Mario Viegas Carrascalao: "Tak Akan Ada Perang, Mungkin Perang Batu" "
Bagaimana komentar anda?