Timor Timur ternyata masih menyisakan banyak kisah. Salah satu kisah itu diungkit lewat Film tanah Air Beta. Kisah tentang keterpisahan. Sebuah keterpisahan ganda. Keterpisahan sebuah propinsi Timor Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi. Keterpisahan seorang kakak beradik, yaitu Merry yang diperankan oleh Griffit Patricia dengan Mauro kakaknya, yang diperankan oleh Marcel Raymond.
Juga keterpisahan seorang istri Tatiana yang dilakonkan Alexandra Gottardo dengan suaminya entah siapa dan keterpisahan seorang suami bernama Abu Bakar (Azrul Dahlan) dengan istrinya yang tak tahu siapa.
Film produksi Alenia Fictures yang digarap Ari Sihasale ini, dilatarbelakangi kisah sedih akibat Jajak Pendapat Timor Timur sebelas tahun silam.
Sebagaimana diketahui, hasil Jajak Pendapat Timor Timur 30 Agustus 1999 yang diumumkan 4 September 1999, dimenangkan oleh kelompok pro kemerdekaan yang anti Indonesia. Akibatnya, ratusan ribu warga Timor Timur terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Sebagaimana diketahui, hasil Jajak Pendapat Timor Timur 30 Agustus 1999 yang diumumkan 4 September 1999, dimenangkan oleh kelompok pro kemerdekaan yang anti Indonesia. Akibatnya, ratusan ribu warga Timor Timur terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Data Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkoorlak) Penangggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP) Provinsi NTT, jumlah pengungsi Timtim yang eksodus ke wilayah NTT pasca pengumuman hasil jajak pendapat di Timtim 4 September 1999 lalu mencapai 54.706 Kepala Keluarga (KK) atau 284.414 jiwa.
Setelah terusir dari tanah leluhur, kehilangan harta benda dan berpisah dengan sanak saudara, ratusan ribu warga Timor Timur itu terpaksa hidup di barak-barak penampungan yang kumuh di Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehidupan di pengungsian itu pun terekam dalam film ini.
Film ini diawali adegan yang cukup memilukan. Ribuan orang berjalan dengan wajah kuyu dan lemas. Tetapi ada juga yang masih sempat menyeret hewan kesayangannya.
Di sebelahnya, lalu lalang kendaraan yang mengangkut manusia berdesakan dengan perabot rumah tangga dan mainan anak-anak yang kusam. Sembari itu terdengar lunan lagu ‘Indonesia Pusaka’, karya Ismail Marzuki, sehingga suasananya terasa seperti “agustusan” atau perayaan proklamasi kemerdekaan yang mau menenggelamkan kita dalam rasa kebangsaan dan cintah tanah air yang amat dalam.
Di sebelahnya, lalu lalang kendaraan yang mengangkut manusia berdesakan dengan perabot rumah tangga dan mainan anak-anak yang kusam. Sembari itu terdengar lunan lagu ‘Indonesia Pusaka’, karya Ismail Marzuki, sehingga suasananya terasa seperti “agustusan” atau perayaan proklamasi kemerdekaan yang mau menenggelamkan kita dalam rasa kebangsaan dan cintah tanah air yang amat dalam.
Indonesia, tanah air beta, pusaka abadi nan jaya…… begitu bait lagu Ismail Marzuki mengawali kisah Tanah Air Beta. Tetapi pusaka apakah yang abadi di tanah air Indonesia nan jaya ini?
Kalau kita mau jujur, jawabnya hanya satu. Kepedihan. Pedih melihat kemiskinan yang semakin bertambah jumlah orangnya maupun ragamnya. Kemiskinan ekonomi, kemiskinan moral, kemiskinan solidaritas dan miskin keadilan. Pedih menyaksikan bencana di sana sini, dan pedih melihat meningkatnya korupsi di berbagai wilayah nusantara.
Kalau kita mau jujur, jawabnya hanya satu. Kepedihan. Pedih melihat kemiskinan yang semakin bertambah jumlah orangnya maupun ragamnya. Kemiskinan ekonomi, kemiskinan moral, kemiskinan solidaritas dan miskin keadilan. Pedih menyaksikan bencana di sana sini, dan pedih melihat meningkatnya korupsi di berbagai wilayah nusantara.
Tetapi Ari Sihasale tak bermaksud mengungkit keanekaragaman pedih itu di Tanah Air Beta. Ia menjauhkan diri dari isu politik. Lewat film ini, Ale hanya mau bilang kepada penonton bahwa di sudut negara abadi nan jaya ini, ada keluarga yang hidup bercerai berai akibat persoalan politik Timor Timur.
“Tanah Air Beta adalah cermin seorang anak yang ingin menemukan arti hidup dan kebanggaan terhadap nilai kebangsaan. Tujuan saya ingin memperlihtkan kepada semua orang bagaimana para pengungsi Timor Leste yang memilih ikut bergabung ke Indonesia dengan tinggal di Atambua sebagai pengungsi, mereka memang sangat mencintai Indonesia”, kata Ari Sihasale dalam pemutaran perdana `Tanah Air Beta` di Planet Hollywood, Jakarta.[2]
Tetapi nilai kebangsaan macam apa yang mau divisualisasikan di film ini? Tidak diungkap secara gamblang. Jika kebangsaan yang dimaksud Ale adalah sebuah pertemuan etnik, maka sekilas, kebangsaan itu tergambar dari para pemainnya yang Manado (Robby Tumewu), Indo (Alexandra Gottardo dan Griffit Patricia). Juga pada sosok Yehuda Rumbini, yang Papua tulen dari Sentani.
Hanya saja, kebangsaan bukan pasar inpres tempat hadirnya persona atau anak manusia dari berbagai “kelurahan”. Bukan pula sekedar pertemanan si kribo dengan si pirang.
Bangsa adalah sebuah keluarga besar yang saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain, di mana kesetaraan terungkap dalam kehidupan nyata yang tertib, aman dan tenteram. Sebuah keluarga besar yang terikat nilai kebangsaan, tidak boleh baku toki atas nama apa saja. Termasuk atas nama Tuhan sekalipun. Sebab Tuhan tidak pernah anarkis. Sudah tentu, juga tidak tega melihat umat-Nya benjol hanya gara-gara sepotong perbedaan.
Bangsa adalah sebuah keluarga besar yang saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain, di mana kesetaraan terungkap dalam kehidupan nyata yang tertib, aman dan tenteram. Sebuah keluarga besar yang terikat nilai kebangsaan, tidak boleh baku toki atas nama apa saja. Termasuk atas nama Tuhan sekalipun. Sebab Tuhan tidak pernah anarkis. Sudah tentu, juga tidak tega melihat umat-Nya benjol hanya gara-gara sepotong perbedaan.
Nilai kebangsaan itu yang kurang terekspose di Tanah Air Beta. Padahal, spirit kebangsaan sudah sangat kental dari judulnya, juga soundtrack lagu Ismail Marzuki dan alunan lagu berbahasa Tetum (Timor Timur) O Doben, yang intinya mengajak seluruh manusia Timor untuk mencintai tanah leluhurnya.
Secara umum, film ini menyoroti kehidupan keluarga yang remuk dihantam badai politik Jajak pendapat Timor Timur. Ada keluarga Tatiana (Alexandra Gottardo) yang kehilangan suaminya, dan anak perempuannya Merry (Griffit Patricia) yang merindukan kakaknya Mauro (Marcel Raymond).
Tatiana dan Merry tinggal di barak penampungan di Timor Barat, Proponsi Nusa Tenggara Timur. Tatiana menghabiskan waktunya dengan mengajar di “sekolah tenda” sambil bertani di lahan tandus yang kering dekat gubuknya.
Tatiana dan Merry tinggal di barak penampungan di Timor Barat, Proponsi Nusa Tenggara Timur. Tatiana menghabiskan waktunya dengan mengajar di “sekolah tenda” sambil bertani di lahan tandus yang kering dekat gubuknya.
Sedangkan Merry yang dikecamuk rindu pada kakaknya, saban malam sibuk menggenggam cobekan layaknya telepon, lalu bicara dengan bantal yang dibalut kaus sang kakak, seakan berbincang dengan Mauro yang tinggal bersama pamannya di Maliana.
Kemudian, ada Abu Bakar (Azrul Dahlan) yang dikisahkan sebagai seorang keturunan Arab yang “kehilangan” istri dan sangat perhatian pada keluarga Tatiana. Tetapi perhatian Abu Bakar itu, ada muatannya. “Ada udang di balik batu”. Rupanya, Abu Bakar mengakrabi keluarga Tatiana karena ia ingin belajar baca tulis dari Tatiana, yang guru di sekolah tenda.
Selain itu, ada juga bocah jahil yang tak punya ayah dan ibu bernama Carlo (Yehuda Rumbindi), yang sering mengganggu Merry di “sekolah tenda”.
Sepertinya, Ale sengaja “mengirim” Abu Bakar membawa bumbu humor mengimbangi Tatiana yang kuyu. Juga Carlo dihadirkan untuk mendampingi Merry yang dibalut rindu pada kakaknya sepanjang masa. Walhasil, Abu dan Carlo memang berhasil mengelitik penonton lewat tingkah laku dan ucapan-ucapannya.
Adegan keluarga terlihat jelas ketika Merrry melihat ibunya sakit. Merry sangat khawatir ibunya akan meninggal dan ia hidup sendirian, seperti Carlo yang “merantau” di Tanah Air Beta, tanpa ayah dan ibu, juga tanpa adik dan kakak. Kekhawatiran itu mendorong Merry nekad pergi ke perbatasan seorang diri mencari Mauro, kakaknya.
Selain itu, ada juga bocah jahil yang tak punya ayah dan ibu bernama Carlo (Yehuda Rumbindi), yang sering mengganggu Merry di “sekolah tenda”.
Sepertinya, Ale sengaja “mengirim” Abu Bakar membawa bumbu humor mengimbangi Tatiana yang kuyu. Juga Carlo dihadirkan untuk mendampingi Merry yang dibalut rindu pada kakaknya sepanjang masa. Walhasil, Abu dan Carlo memang berhasil mengelitik penonton lewat tingkah laku dan ucapan-ucapannya.
Adegan keluarga terlihat jelas ketika Merrry melihat ibunya sakit. Merry sangat khawatir ibunya akan meninggal dan ia hidup sendirian, seperti Carlo yang “merantau” di Tanah Air Beta, tanpa ayah dan ibu, juga tanpa adik dan kakak. Kekhawatiran itu mendorong Merry nekad pergi ke perbatasan seorang diri mencari Mauro, kakaknya.
Carlo pun menyusul Merry ke perbatasan setelah dibentak oleh Abu Bakar yang sangat mengkhawatirkan kepergian Merry yang misterius dan sangat tiba-tiba.
Pada bagian ini, batin penonton mungkin akan agak ngilu, saat Merry yang awalnya sangat membenci Carlo dan berjanji tak mau lagi bicara dengannya, akhirnya mengungkapkan kegelisahannya dan alasannya nekat pergi ke perbatasan seorang diri.
Pada bagian ini, batin penonton mungkin akan agak ngilu, saat Merry yang awalnya sangat membenci Carlo dan berjanji tak mau lagi bicara dengannya, akhirnya mengungkapkan kegelisahannya dan alasannya nekat pergi ke perbatasan seorang diri.
“Carlo, ko rasa bagaimana kalau tida punya mama lagi? tanya Merry. Carlo tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia menghentikan makannya dan menatap Merry. “Sepi sekali. Tidak punya bapak, tidak punya adik. Ko juga tidak mau jadi sa pu adik”, rintih Carlo dalam logat Kupang.
Pada penggalan lain, Carlo pun bertanya, apakah Merry masih mau berteman dengannya jika sudah bertemu Mauro. Tetapi Merry merasa hanya punya satu kakak, Carlo dengan tegas menjawab,”Tak ada salahnya punya dua kakak!”
Penggalan kisah ini mungkin merupakan sebuah ungkapan pertemanan (Mery dan Carlo) yang dikemas cukup sempurna oleh Ale, sehingga bisa penonton bisa mengerti arti sebuah persaudaraan.
Klimaksnya, ketika Merry dan Carlo berusaha mencari Mauro, sambil melantunkan lagu “Kasih ibu Kepada Beta”. Merry dan Carlo akhirnya bertemu Mauro. Ketiganya berpelukan di “jembatan air mata” di Mota A’in, Kabupaten Belu.
Pada penggalan lain, Carlo pun bertanya, apakah Merry masih mau berteman dengannya jika sudah bertemu Mauro. Tetapi Merry merasa hanya punya satu kakak, Carlo dengan tegas menjawab,”Tak ada salahnya punya dua kakak!”
Penggalan kisah ini mungkin merupakan sebuah ungkapan pertemanan (Mery dan Carlo) yang dikemas cukup sempurna oleh Ale, sehingga bisa penonton bisa mengerti arti sebuah persaudaraan.
Klimaksnya, ketika Merry dan Carlo berusaha mencari Mauro, sambil melantunkan lagu “Kasih ibu Kepada Beta”. Merry dan Carlo akhirnya bertemu Mauro. Ketiganya berpelukan di “jembatan air mata” di Mota A’in, Kabupaten Belu.
Tetapi sampai di sini, jidad penonton mungkin akan mengkrut. Sebab, pesan kebangsaan Tanah Air Beta bergeser ke “Kasih ibu Kepada Beta” saat Tatiana dan Abu Bakar bergabung dengan Mauro, Carlo dan Merry di tengah kerumunan orang yang “kangen-kengenan” di “jembatan air mata”, Mota A’in – sebuah jembatan yang memisahkan Indonesia dan Timor Leste sekarang ini.
Bagi penonton yang tahu persoalan Timor Timur mungkin akan bertanya-tanya. Siapa Tatiana sebenarnya? Sebab, kita tahu, bahwa pasca Jajak Pandapat, ribuan warga Eks Timor Timur, baik pro Indonesia maupun pro kemerdekaan, semuanya megungsi ke Timor Barat. Adakah Tatiana seorang pro Indonesia yang memilih tinggal di barak penampungan karena kecintaannya terhadap Ibu Pertiwi? Atau dia memilih menetap di Indonesia karena terlanjur menjanda. Artinya hidup di Timor Barat atau di Timor Timur, baginya sama saja. Tetap menjada.
Ale tidak menggambarkan latar belakang atau alasan yang mengilhami Tatiana rela “mengembara” di Timor Barat. Karena tak terungkap jelas, maka barangkali film ini hanya mau mengungkap ketegaran seorang janda di pengungsian.
Ale tidak menggambarkan latar belakang atau alasan yang mengilhami Tatiana rela “mengembara” di Timor Barat. Karena tak terungkap jelas, maka barangkali film ini hanya mau mengungkap ketegaran seorang janda di pengungsian.
Penonton yang berasal dari “bumi Komodo” barangkali akan merasa sedikit perih, menyaksikan gersangnya “Tanah Air Beta” di Nusa Tenggara Timur, karena hampir sepanjang cerita dalam film ini penonton disuguhkan suasana alam Nusa Tenggara Timur yang kering kerontang. Perbukitan yang nyaris tanpa pohon, terik matahari yang menyengat kulit dan menyilaukan mata, memang merupakan keadaan sebenarnya di Nusa Tenggara Timur.
Jadi pengungkapan kesengsaraan pengungsi Eks Timor Timur dibarak penampungan yang kumuh, dengan pemandangan hamparan tanah merah yang kering dan gersang, secara tidak langsung mewakili keterbelakangan NTT yang terdaftar sebagai salah satu propinsi termiskin di Indonesia.
Jadi pengungkapan kesengsaraan pengungsi Eks Timor Timur dibarak penampungan yang kumuh, dengan pemandangan hamparan tanah merah yang kering dan gersang, secara tidak langsung mewakili keterbelakangan NTT yang terdaftar sebagai salah satu propinsi termiskin di Indonesia.
Melihat lekuk perjalanan yang dilalui Marry menuju perbatasan Mota A’in, Kabupaten Belu, tampaknya pengambilan gambar dilakukan di sebuah lokasi pengungsian di sekitar Kupang Timur atau Kupang Tengah.[3]
Sayang sekali, kehidupan sehari-hari pengungsi kurang diungkapkan. Bahkan interaksi pengungsi dan penduduk lokal, hampir tidak disentuh sama sekali. Seolah-olah pengungsi Eks Timor Timur “terisolir” dari yang akar sosial di sekitarnya. Padahal, ini penting diceritakan untuk mengisahkan apakah kehadiran pengungsi Eks Timor Timur itu diterima penduduk lokal atau tidak?
Sayang sekali, kehidupan sehari-hari pengungsi kurang diungkapkan. Bahkan interaksi pengungsi dan penduduk lokal, hampir tidak disentuh sama sekali. Seolah-olah pengungsi Eks Timor Timur “terisolir” dari yang akar sosial di sekitarnya. Padahal, ini penting diceritakan untuk mengisahkan apakah kehadiran pengungsi Eks Timor Timur itu diterima penduduk lokal atau tidak?
Drama keluarga di Tanah Air Beta mungkin akan terasa lebih lengkap seandainya Ale mengambil gambar kekumuhan barak penampungan yang nyaris tanpa pembatas. Sehingga pernah ada seorang ayah yang mengeluh tidak bisa mencukupi “kebutuhan pribadi” selama berminggu-minggu, karena tempat tidur mereka berdesakan dengan anak-anakya dan juga keluarga yang lainnya.
Tetapi terlepas dari semua itu, Tanah Air Beta menunjukkan betapa masih menyedihkannya kehidupan pengungsi Eks Timor Timur di barak penampungan di Timor Barat. Ini memang kenyataan yang mencederai rasa kebangsaan.
Ketidakadilan akan kelihatan lebih bugil lagi, jika kehidupan warga Eks Timor Timur di barak penampungan yang rela menderita demi tanah air Indonesia itu kita perhadapkan dengan perlakuan pemerintah yang memberi pesangon kepada mantan “pejuang kemerdekaan” GAM di Aceh, yang pernah minta pisah dengan Indonesia pakai senjata.
Ketidakadilan akan kelihatan lebih bugil lagi, jika kehidupan warga Eks Timor Timur di barak penampungan yang rela menderita demi tanah air Indonesia itu kita perhadapkan dengan perlakuan pemerintah yang memberi pesangon kepada mantan “pejuang kemerdekaan” GAM di Aceh, yang pernah minta pisah dengan Indonesia pakai senjata.
Tak heran jika kehidupan pahit Tatiana di pengungsian yang diperankan Alexandra Gottardo dalam film Tanah Air Beta tersebut, akhirnya menggugah Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Hatta Radjasa. Laki-laki “berambut perak” ini menilai,
"Tanah Air Beta” merupakan gambaran kehidupan sosial penduduk Indonesia di daerah perbatasan yang seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Penilaian itu dia dilontarkan dalam konferensi pers di sela-sela nonton bareng “Tanah Air Beta” yang diselenggarakan PAN di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2010.
"Tanah Air Beta” merupakan gambaran kehidupan sosial penduduk Indonesia di daerah perbatasan yang seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Penilaian itu dia dilontarkan dalam konferensi pers di sela-sela nonton bareng “Tanah Air Beta” yang diselenggarakan PAN di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2010.
“Kondisi yang dialami masyarakat Atambua seperti diceritakan dalam film Tanah Air Beta memang tidak bisa ditutup-tutupi kebenarannya. Saya sendiri pernah ke Atambua, memang daerah perbatasan itu harus kita tingkatkan. Harus yang prosperity approach yang kita utamakan. Jadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan itu penting, supaya kecintaannya kepada bangsa semakin meningkat,” katanya.
Keprihatinan serupa dilontarkan oleh mantan Ketua MPR Amien Rais, Menurut Amien, kelemahan kita untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, ketika ada wilayah yang jauh dari Jakarta dapat kesusahan, ada musibah seperti kehidupan pengungsi Timor Timur yang sangat sengsara itu, dianggap seolah tidak ada apa-apa.
Oleh sebab itu, Amien berharap, film Tanah Air Beta mampu menggugah pemerintah untuk menentukan kebijakan demi mensejahterakan masyarakat Timor Timur.
"Ya saya melihat Pak Hatta ini setelah melihat film tersebut bersama pemerintah akan mengambil langkah buat 70 ribu anak bangsa itu mau diapakan. Karena sudah sepuluh tahun (nasibnya seperti itu),” kata Amien.
"Ya saya melihat Pak Hatta ini setelah melihat film tersebut bersama pemerintah akan mengambil langkah buat 70 ribu anak bangsa itu mau diapakan. Karena sudah sepuluh tahun (nasibnya seperti itu),” kata Amien.
Nonton bareng yang diselenggarakan Partai PAN terasa begitu lengkap dengan hadirnya para pemain dan kru film Tanah Air Beta. juga tokoh Timor Timur, Eurico Guterres. Mantan narapidana HAM Berat Timor Timur ini konon sengaja dipanggil oleh partainya untuk memberi “kesaksian” kepada Tanah Air Beta.
Dalam konferensi pers yang dipandu Eko Patrio, Guterres mengungkapkan kegelisahannya terhadap Tanah Air Beta. Ia merasa film itu, secara tidak langsung membenarkan tuduhan internasional, yang memvonis dirinya sebagai pimpinan milisi yang memaksa penduduk mengungsi ke Timor Barat.
“Salah satu tuduhan terberat yang saya hadapi dalam Pengadilan HAM Berat Timor Timur, adalah pemindahan paksa. Dunia menuduh saya yang memaksa orang mengungsi ke Timor Barat, sehingga ada anak-anak berpisah dengan orang tuanya, suami berpisah dengan istrinya, dan sebagainya.
Saya sudah bantah itu di pengadilan, tetapi film ini membenarkan tuduhan tersebut”, kata Guterres. “Meskipun begitu, sebagai warga Eks Timor Timur, saya berterima kasih kepada Ale, karena sudah mau mengungkap penderitaan warga saya di pengungsian”, katanya lagi.
Saya sudah bantah itu di pengadilan, tetapi film ini membenarkan tuduhan tersebut”, kata Guterres. “Meskipun begitu, sebagai warga Eks Timor Timur, saya berterima kasih kepada Ale, karena sudah mau mengungkap penderitaan warga saya di pengungsian”, katanya lagi.
Tanah Air Beta memang tak lepas dari kritikan, selain puja dan pujian. Pesan sponsor begitu kental di dalamnya ketika Carlo begitu sering mengajak Merry cuci tangan dengan sorotan sabun Lifeboy berwarna merah di dekatnya. Kolam buatan tempat Carlo dan teman-temannya bermain, seakan mengajak penonton untuk selalu hidup bersih.
Kemudian, perhatikan pula “pagar negara” berpakaian loreng yang lalu lalang memegang senjata tanpa bertegur sapa, seakan-akan menunjukkan bahwa tentara tidak pernah bikin apa-apa dan tidak pernah campur tangan dalam persoalan warga Timor Timur. Tetapi terlepas dari semua itu, sebagai hiburan, Tanah Air Beta pantas ditonton oleh semua kalangan. Viva cinema Indonesia…, atelogu. ***
Kemudian, perhatikan pula “pagar negara” berpakaian loreng yang lalu lalang memegang senjata tanpa bertegur sapa, seakan-akan menunjukkan bahwa tentara tidak pernah bikin apa-apa dan tidak pernah campur tangan dalam persoalan warga Timor Timur. Tetapi terlepas dari semua itu, sebagai hiburan, Tanah Air Beta pantas ditonton oleh semua kalangan. Viva cinema Indonesia…, atelogu. ***
[1] Seorang warga Eks Timor Timur, yang ikut mengungsi ke Timor Barat setelah Jajak Pendapat Timor Timur tahun 1999.
[2] Liputan6.com, Senin 14/6.
[3] Dalam catatan pemerintah setempat, ada sekitar 22 ribu KK pengungsi Eks Timor Tumur yang menetap di Kabupaten Kupang.
http://hiburan.kompasiana.com/film/2010/06/26/tanah-air-beta-abadi-nan-gersang-177714.html

Posting Komentar untuk "Tanah Air Beta Abadi nan Gersang"
Bagaimana komentar anda?